Intinya
- Wisman 2025 mencapai 15,39 juta, dan 52,6% di antaranya beraktivitas wisata bahari menurut data BPS yang dikutip Menteri Pariwisata.
- Pemerintah mengarahkan wisata bahari ke kualitas, dan pedoman BGCE 2024 memberi arah lingkungan bagi sektor pariwisata.
- Terumbu, pantai, dan daya dukung adalah aset hotel pesisir, bukan sekadar latar.
- Langkah awal: pahami GSTC Standards, petakan kondisi hotel atau destinasi, lalu rancang perbaikan dan persiapan sertifikasi.
Wisatawan mancanegara terus bertambah. Sepanjang 2025, BPS mencatat 15,39 juta kunjungan, naik 10,8% dari tahun sebelumnya. Menurut data BPS yang dikutip Menteri Pariwisata, 52,6% wisman pada 2025 melakukan aktivitas wisata bahari selama di Indonesia. Bagi pengelola hotel dan destinasi pesisir, angka ini punya satu arti: kondisi laut dan pantai ikut menentukan nilai bisnis Anda.
Aktivitas bahari itu bergantung pada terumbu yang sehat, pantai yang bersih, dan perairan yang aman. Hotel yang menjual pengalaman bahari menjual kondisi alam yang sama dengan yang dikelola destinasi.
Arah kebijakan pemerintah
Pemerintah mengarahkan wisata bahari ke kualitas. Dalam keterangan resmi pada 23 September 2026, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan potensi marina dan wisata bahari Indonesia kepada investor di Monaco Smart & Sustainable Marina Rendezvous (20 sampai 21 September 2026). Ia menyebut Indonesia baru memiliki 10 marina dengan 336 tempat sandar. Singapura memiliki lebih dari 1.200, sedangkan Malaysia dan Thailand masing-masing lebih dari 1.400.
Dari sisi lingkungan, Kementerian Pariwisata bersama Bappenas menerbitkan pedoman penerapan Blue, Green, and Circular Economy (BGCE) untuk sektor pariwisata pada 2024. Tujuannya menurunkan emisi karbon serta melindungi sumber daya alam, budaya, dan tradisi lokal, menurut siaran pers kementerian.
Pembangunan marina dan fasilitas baru membuka kesempatan memasukkan standar keberlanjutan sejak tahap rancangan. Mengubah desain setelah dibangun hampir selalu lebih sulit daripada merancangnya dengan benar sejak awal.
Bagi pengelola hotel, arah ini berarti kualitas pengalaman dan pengelolaan lingkungan akan makin sering dibaca bersama. Hotel yang sudah punya data dan rencana lebih siap menjawab pertanyaan investor, mitra, dan tamu.
Yang dipertaruhkan hotel dan destinasi
Taman Nasional Wakatobi, misalnya, memiliki sekitar 25 gugusan terumbu karang, dan aktivitas utamanya adalah menyelam dan snorkeling.
Kerusakan terumbu, sampah laut, dan kunjungan yang melebihi daya dukung mengurangi alasan wisatawan datang. Pengelola yang memantau daya dukung lebih awal punya ruang lebih besar untuk mengatur kunjungan dan menjaga mutu pengalaman. Taman Nasional Komodo, misalnya, membatasi kunjungan 1.000 orang per hari sejak 1 April 2026, berdasarkan kajian daya dukung dan daya tampung. Sumber paling baru (CNN Indonesia, 26 September 2026) menyebut kuota harian disesuaikan menjadi 500 orang untuk September sampai Desember 2026.
Bagi hotel di pesisir, kondisi pantai dan laut ikut memengaruhi pengalaman tamu. Tabel berikut merangkum hubungan antara aset bahari, produk yang dijual, dan hal yang bisa dipantau.
| Aset bahari | Yang dijual hotel dan destinasi | Hal yang bisa dipantau |
|---|---|---|
| Terumbu karang | Menyelam dan snorkeling | Kondisi terumbu dan jumlah penyelam per lokasi |
| Pantai dan perairan | Pengalaman tamu di pantai dan laut | Sampah laut dan kebersihan pantai |
| Kapasitas lokasi | Kenyamanan dan mutu kunjungan | Jumlah kunjungan harian terhadap daya dukung |
Risiko bagi hotel pesisir bisa dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, risiko alam: terumbu rusak dan pantai kotor mengurangi alasan tamu datang. Kedua, risiko operasional: lonjakan kunjungan menambah beban pengelolaan air dan sampah. Ketiga, risiko reputasi: tamu menilai pengalaman dari kondisi laut dan pantai.
Tabel ini bukan daftar lengkap. Setiap hotel punya aset dan risiko berbeda, sehingga indikatornya perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi.
Dari mana memulai
Banyak pengelola sudah setuju bahwa keberlanjutan penting, tetapi belum yakin langkah pertamanya. Tiga langkah berikut bisa dimulai tanpa menunggu proyek besar.
1. Pahami standarnya
Acuan yang umum dipakai adalah GSTC Standards untuk destinasi dan hotel. Tim perlu memahami isinya sebelum menilai kondisi sendiri. GSTC Sustainable Tourism Course (Online Course atau Offline Course) membekali tim dengan pemahaman GSTC Standards melalui empat pilar, diskusi kasus, dan sesi pembicara tamu. Customized In-House Training menyesuaikan materi dengan konteks hotel atau destinasi Anda.
Yang perlu dicermati. Pelatihan tidak otomatis berarti sertifikasi. Tujuannya membuat manajemen dan staf operasional memakai bahasa dan ukuran yang sama sebelum audit.
2. Petakan kondisi saat ini
Mulailah dengan dua pertanyaan sederhana. Apakah manajemen punya data bulanan untuk konsumsi energi, air, dan sampah? Siapa yang bertanggung jawab atas keberlanjutan di unit Anda? Jawabannya menunjukkan seberapa jauh kondisi hotel atau destinasi dari standar, dan ke mana perbaikan perlu diarahkan lebih dulu. Catat hasilnya dalam satu dokumen yang bisa dipakai ulang saat menyusun rencana perbaikan atau saat audit.
Yang perlu dicermati. Data yang belum lengkap bukan alasan menunda. Mulailah dari tagihan bulanan yang sudah ada, lalu perbaiki pencatatannya bertahap.
3. Rancang perbaikan dan siapkan sertifikasi
Kami mendampingi hotel yang menyiapkan sertifikasi keberlanjutan sebelum audit. Bila sertifikasinya mengacu pada GSTC Standards, audit dan keputusannya dilakukan lembaga sertifikasi yang diakreditasi GSTC. Bagi investor atau pengelola yang akan berekspansi, kami menyusun studi kelayakan dan riset pasar.
Yang perlu dicermati. Sertifikasi memerlukan dokumen dan bukti pelaksanaan, jadi tim perlu menyiapkannya jauh sebelum jadwal audit.
Wise People, jika Anda mengelola hotel atau destinasi bahari dan ingin mulai dari pelatihan atau pemetaan awal, hubungi kami lewat halaman Hubungi Kami.
FAQ
Apa itu GSTC Standards?
GSTC Standards adalah acuan yang umum dipakai untuk menilai keberlanjutan destinasi dan hotel. Kursus WSC memperkenalkannya melalui empat pilar standar GSTC.
Apakah GSTC yang menerbitkan sertifikat hotel?
Tidak. GSTC tidak menerbitkan sertifikat sendiri. Audit dan keputusan sertifikasi dilakukan lembaga sertifikasi yang diakreditasi GSTC.
Mengapa daya dukung penting bagi hotel pesisir?
Kunjungan yang melebihi daya dukung merusak terumbu dan pantai yang menjadi alasan tamu datang. Pembatasan kunjungan di Taman Nasional Komodo, yang berdasar kajian daya dukung dan daya tampung, menunjukkan arah itu.
Kesimpulan
Wisata bahari tumbuh bersama jumlah wisman, dan nilai bisnis hotel pesisir bergantung pada laut dan pantai yang tetap sehat. Standar keberlanjutan lebih mudah dimasukkan sejak tahap rancangan. Langkah awalnya sederhana: memahami standar, memetakan kondisi saat ini, lalu merancang perbaikan.
Referensi
- BPS (30 April 2026): Statistik Kunjungan Wisatawan Mancanegara 2025.
- BCA Sekuritas, kutipan keterangan Menteri Pariwisata (data BPS 52,6% wisman beraktivitas bahari): Menpar ajak investor di Monako garap peluang wisata bahari.
- Investortrust (23 September 2026): Tawarkan investasi wisata bahari di Monako, Menpar sebut pasar yacht RI diproyeksi US$ 449 juta (jumlah marina dan tempat sandar).
- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2024): siaran pers peluncuran pedoman BGCE untuk pariwisata.
- Indonesia.travel: 7 Hal tentang Wakatobi yang Wajib Kamu Tahu (jumlah gugusan terumbu karang dan aktivitas utama).
- Katadata (14 April 2026): Menhut: Pembatasan Kunjungan TN Komodo Tak Akan Tekan Ekonomi Masyarakat (kuota 1.000 pengunjung per hari).
- CNN Indonesia (26 September 2026): Kuota Kunjungan Harian di TN Komodo Dibatasi 500 Orang per Hari (penyesuaian kuota September sampai Desember 2026).
- GSTC: Accredited Certification Bodies.
- Wise Steps Consulting: GSTC Sustainable Tourism Training, Online Course, dan Offline Course.

Penulis: Shafa Nurfaizah, Analyst WSC




