Apa itu pariwisata regeneratif? Artikel ini membahas definisi, perbedaannya dengan sustainable tourism, kerangka Living Systems Theory dalam pariwisata regeneratif, hingga kritik soal apakah konsep ini substantif atau sekadar rebranding.
Apa Itu Pariwisata Regeneratif?
Pariwisata regeneratif adalah model pariwisata yang tidak hanya bertujuan meminimalkan dampak negatif, tetapi juga secara aktif memulihkan, meningkatkan, dan menghidupkan kembali ekosistem alam serta kesejahteraan komunitas lokal. Intinya adalah menciptakan dampak net-positive (manfaat positif) bagi destinasi, bukan sekadar mengurangi dampak negatif.
Singkatnya: jika pariwisata berkelanjutan bertanya “apakah kita sudah cukup tidak merusak?”, maka pariwisata regeneratif bertanya lebih jauh, “apakah kehadiran kita justru membuat tempat ini lebih baik dari sebelumnya?”
Meskipun akar pemikiran regeneratif berasal dari bidang-bidang lain, seperti ilmu ekologi, agrikultur, dan bidang lain, tokoh pariwisata terutama Anna Pollock mulai mendalaminya dan memasukkan prinsip fundamental tersebut ke dalam dunia pariwisata. Beliau cukup terkenal dengan publikasi awalnya pada tahun 2012 yang mengemukakan argumentasi bahwa pariwisata harus bertransformasi menjadi living system, yang dikenal dengan pariwisata regeneratif (Dredge, 2022; Bellato & Pollock, 2025; Pollock, 2019). Selanjutnya, tulisannya yang berjudul Regenerative Tourism: The Maturation of Sustainability (2019) juga menarik perhatian New York Times, yang menindaklanjuti dengan artikel berjudul “Move Over, Sustainable Travel. Regenerative Travel Has Arrived”. Tulisan tersebut mulai memicu perdebatan, diskusi, penyebutan (mentions), dan penyebaran informasi. Hal ini mendorong kata ‘regenerasi’ mulai dimasukkan ke dalam portofolio para konsultan, destinasi, serta berbagai acara industri (Bellato & Pollock, 2025). Konsep ini menjadi semakin populer pascapandemi sebagai paradigma pariwisata yang baru, dengan tercatatnya 5140 artikel jurnal tentang ‘regenerative tourism’ selama satu tahun, yakni dalam jangka waktu antara ‘2020-2021’ (Hussain & Halley, 2022).
Gambar 1. Konsep Pariwisata Regeneratif dan Berkelanjutan

Ringkasan Perbedaan Sustainable Tourism vs. Regenerative Tourism
| Aspek | Sustainable Tourism | Regenerative Tourism |
| Tujuan Utama | Mempertahankan/Menjaga (Maintain) | Memulihkan/Memperbaiki (Restore) |
| Tolok Ukur Dampak | Net-Zero / tidak merusak | Net-Positive / menambah nilai |
| Peran Aktor Pariwisata | Aktor yang bertanggung jawab | Kontributor aktif dalam pemulihan atau peningkatan |
Kerangka Teori: The Living Systems Approach
Untuk memahami pariwisata regeneratif secara mendalam, kita dapat juga mengawalinya dengan mengenal fondasinya terlebih dahulu, yakni Teori Sistem Hidup (Living Systems Theory), yang dikembangkan oleh Bill Reed (Regenesis Group) dan diadaptasi ke dalam konteks pariwisata oleh Bellato dkk. (2022) menjadi Tourism Living System (TLS). Landasan teori lebih dalam dapat dibaca di artikel jurnal berikut. Intinya, terdapat perbedaan filosofis yang paling mendasar antara pariwisata konvensional dan living system. Dalam pandangan konvensional, alam dan masyarakat sering diposisikan sebagai aset yang mendukung aktivitas pariwisata. Sebaliknya, dalam perspektif living system, pariwisata justru dipandang sebagai bagian kecil dari sebuah ekosistem kehidupan yang lebih besar.
Lanjut ke isu “Siapa harus melakukan apa agar pariwisata bisa membawa dampak regeneratif?”, gambar di bawah berikut bisa menjadi gambaran secara umum kaitannya dengan peran pemangku kepentingan dalam mendukung implementasi pariwisata regeneratif.
Gambar 2. Konsep Pariwisata Regeneratif dan Berkelanjutan

Sumber: Bellato dkk. (2022)
Secara umum, dalam Tourism Living System, terdapat peran transformatif yang menjadi kunci dalam penerapan Pariwisata Regeneratif, yang terdiri dari:
- Stewarding (Penjaga): Aktor (bisa pemerintah, komunitas, atau pengelola) yang mengambil tanggung jawab untuk merawat, memulihkan, dan meregenerasi ekosistem serta budaya lokal.
- Hosting (Penyedia): Pelaku usaha pariwisata (hotel, pemandu, tour operator atau travel agent) selaku penyedia layanan perjalanan yang mengedepankan prinsip menghormati tempat yang dikunjungi dan memfasilitasi hubungan baik antara wisatawan dan masyarakat lokal.
- Guesting (Wisatawan): Wisatawan sebagai tamu yang menghormati budaya setempat dan memberikan kontribusi positif (baik finansial maupun dalam bentuk lain) bagi destinasi.
- Communing (Pendukung): Masyarakat lokal dan sektor non-pariwisata (petani lokal, nelayan, UMKM) yang menyokong kehidupan sehari-hari di destinasi tersebut.
- Placing (Wadah): Alam, lanskap, satwa, dan atmosfer lingkungan itu sendiri yang bertindak sebagai aktor aktif pembentuk identitas aktivitas pariwisata
Dalam konsep Tourism Living System, semua peran pemangku kepentingan adalah satu kesatuan yang saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan dalam mendukung pengembangan pariwisata regeneratif. Jika ada satu saja peran yang hilang atau tidak berjalan, ekosistem pariwisata di destinasi tersebut akan rusak dan mengalami penurunan kualitas (degenerasi). Namun, perlu diketahui bahwa hubungan antar peran ini memiliki batas-batas yang sangat fleksibel. Artinya, tidak ada sekat kaku yang membatasi mereka, sehingga seluruh pihak bisa saling memengaruhi untuk terus beradaptasi, tumbuh, dan berkembang secara berkesinambungan (Bellato dkk., 2022). Kembali ke posisi teori, sebagai dasar dari pandangan ‘regeneratif’, teori Living System ini memposisikan dirinya sebagai kompas moral bagi industri pariwisata yang menggeser pariwisata dari yang awalnya sekadar industri komersial menjadi sebuah industri yang mendukung kehidupan (Drege, 2022).
Contoh Implementasi: Dari Konsep ke Praktik
Setelah memahami konsep Pariwisata Regeneratif dan teori living system-nya, bagaimana contoh implementasi praktiknya?
Dalam konteks global, terdapat beberapa aktivasi program dan implementasi yang dapat dijadikan kisah inspiratif maupun benchmark terkait bagaimana aspek tertentu dari pariwisata regeneratif diwujudkan.
- Rwanda [Gorilla Conservation Tourism]
Dalam upaya konservasi gorila ini, terdapat biaya permit gorila sebesar USD 1.500 per orang, yang 10% dari pendapatan dikembalikan ke desa sekitar kawasan. Selain itu, juga dilakukan pelibatan dan pemberdayaan masyarakat yang berdampak pada mantan pemburu satwa liar yang berubah menjadi pemandu wisata dengan penghasilan 3–5 kali lebih tinggi. Dampaknya, perburuan liar menurun drastis dan populasi gorila naik dari ~620 (2010) ke >1.000 (2023).
- Costa Rica [Model Restorasi Ekosistem Nasional]
Pajak karbon 3,5% dari bahan bakar fosil dialihkan langsung ke dana konservasi hutan. Disertai dengan pemanfaatan pariwisata alam yang masif (ekowisata menopang 8% PDB), alasan untuk merestorasi hutan menjadi kuat. Hasilnya, tutupan hutan naik dari 21% (1987) menjadi >54% (2023).
- Nepal [CFUG (Community Forest User Groups) Trekking Model]
Biaya masuk Annapurva/Everest digunakan untuk trail restoration dan pembangunan infrastruktur desa seperti jembatan. Sebanyak 22.000+ kelompok yang mengelola hutan menerima royalti/insentif dari trekking. Terdapat pula ‘Porter Welfare Standards’ yang memastikan bahwa wisatawan wajib membayar upah yang layak kepada porter dan membayar asuransi. Ini menjadi alasan bagi komunitas untuk menjaga agar hutannya tetap ada. Dampaknya, tutupan hutan Nepal naik dari 26% (1992) ke 45% (2022), yang menjadikannya sebagai salah satu reforestasi terbesar di Asia.
Perdebatan Kritis Pro dan Kontra
Sejak konsep pariwisata regeneratif mulai mendapat perhatian luas, muncul pertanyaan-pertanyaan dari kalangan praktisi hingga akademisi: apakah ini benar-benar paradigma baru, atau sekadar kemasan baru tanpa dilandasi perubahan aktual yang signifikan?
Setelah membahas perbedaan antara paradigma berkelanjutan dan regeneratif di awal, akan mulai dipahami bahwa pariwisata regeneratif merepresentasikan perubahan yang lebih fundamental dan radikal dibandingkan dengan pariwisata berkelanjutan. Perkembangannya didasarkan pada kritik terhadap praktik pariwisata saat ini maupun konsep pariwisata berkelanjutan yang dianggap belum mampu memenuhi perannya dalam menyelesaikan isu mendasar dalam rantai aktivitas pariwisata (Iddawala & Lee, 2026; Bellato dkk., 2024; Rasoolimanesh dkk., 2026; Drege, 2022). Selain itu, kritik dari tokoh-tokoh tersebut juga dilayangkan terhadap praktik pariwisata berkelanjutan yang dianggap sering kali masih terlalu berkompromi atau terjebak dalam agenda pertumbuhan ekonomi (growth-driven) dan manajerial. Drege (2022) menambahkan bahwa tools, seperti kriteria sertifikasi seringkali gagal menyelesaikan masalah mendasar. Indikator global tersebut memiliki pendekatan yang bersifat universal dan top-down sehingga kesulitan dalam mengakomodasi keunikan suatu destinasi dalam implementasinya.
Kritik tajam terhadap pariwisata berkelanjutan inilah yang mendorong munculnya kebutuhan akan paradigma yang lebih transformatif, yaitu pariwisata regeneratif. Kritik-kritik tersebut cukup menarik karena sebagian besar tidak muncul dari pihak yang menolak keberlanjutan, melainkan justru dari kalangan yang mendukung agenda keberlanjutan itu sendiri. Dengan kata lain, regeneratif lahir bukan sebagai antitesis terhadap sustainability, melainkan sebagai upaya untuk mendorongnya lebih jauh. Namun, meskipun konsep regeneratif menawarkan aspirasi yang lebih tinggi dan mendasar, ia tidak otomatis terbebas dari masalah. Begitu konsep ini mulai mendapat perhatian luas, perdebatan bergeser: sisi yang skeptis mulai mempertanyakan apakah pariwisata regeneratif ini benar-benar solusi, atau justru melahirkan serangkaian masalah konseptual?
Beberapa kritiknya terangkum dalam 3 poin yang saling terhubung berikut.
1. Konsep yang masih samar dan diselimuti perdebatan
Belum ada kesepakatan atau konsensus tunggal mengenai definisi pasti dari pariwisata regeneratif. Selain itu, didapati bahwa terdapat banyak definisi yang tumpang tindih dan digunakan secara bergantian tanpa konsensus yang kuat (Paddison & Hall, 2024; Rasoolimanesh dkk., 2026). Konsekuensinya, ketiadaan definisi yang disepakati secara global ini menghambat adaptasi praktisnya dalam perencanaan pariwisata di tingkat global. Iddawala dan Lee (2026) melakukan analisis data terhadap 255 artikel, kemudian menemukan fakta bahwa mayoritas literatur (51%) masuk dalam kategori “Recognition” (hanya sekadar menyebut istilah) ketimbang “Investigation” (melakukan pengkajian mendalam). Terlebih lagi, ditemukan bahwa masih sangat minim panduan praktis tentang bagaimana prinsip-prinsip regeneratif ini bisa diterapkan di lapangan. Para ahli memperingatkan adanya risiko besar bahwa pariwisata regeneratif bisa berakhir menjadi sekadar buzzword atau tren kata tanpa adanya kontribusi nilai konseptual dan praktik konkret di dunia akademik maupun industri.
Selain itu, di dalam perdebatan tersebut, terdapat pula polemik definisi kaku vs berbasis tempat (place-centrism). Regeneratif pada dasarnya bersifat kontekstual dan unik bagi setiap daerah (place-based), sehingga sangat sulit diukur menggunakan indikator generik atau definisi tunggal. Di lain sisi, menggeneralisasikan definisinya memiliki risiko reduksionisme, yakni mencoba memaksakan satu definisi universal yang dikhawatirkan akan menjebak konsep ini ke dalam cara pandang yang ada sebelumnya. Namun, di sisi lain, ukuran dan panduan yang konkret diperlukan dalam mengukur pencapaian dan status, sekaligus menjadi upaya preventif terhadap maraknya klaim regeneratif.
Many discussions surrounding regenerative tourism seem to stem from a desire for more inspirational terminology rather than substantive change. This has led to a proliferation of articles and academic papers that offer little more than rehashed ideas without clear operational guidelines.
2. Tantangan dalam Praktiknya
Pariwisata memiliki ekosistem yang kompleks karena melibatkan berbagai aktor. Di dalam satu perjalanan wisata saja, rantai pasoknya mencakup maskapai penerbangan, hotel, restoran, transportasi lokal, atraksi wisata, hingga jasa pemandu. Jika untuk mendatangkan turis saja kita harus membakar avtur pesawat (yang sangat ekstraktif), aksi menanam pohon atau membersihkan pantai seperti apa yang bisa menutupi dampak buruk tersebut agar hasilnya menjadi net-positive? Pariwisata dilihat bukan melalui ‘produk apa yang dihasilkan’, melainkan ‘rangkaian apa yang dikonsumsi oleh wisatawan’. Dengan demikian, sisi yang skeptis memandang bahwa dampak dari suatu perjalanan, serta klaim regeneratif ini perlu dilihat secara komprehensif di seluruh rantai pasok, serta nyatanya akan susah diimplementasikan karena karakteristik pariwisata itu sendiri (Hussain & Haley, 2022).
Pertanyaan yang muncul kemudian bukan lagi apakah regeneratif merupakan ide yang baik, melainkan apakah sistem pariwisata global saat ini memungkinkan ide tersebut diwujudkan secara utuh dan realistis. Semakin kompleks rantai pasokan nya, semakin sulit pula memastikan bahwa manfaat yang dihasilkan benar-benar melampaui dampak yang ditimbulkan.
3. Risiko Greenwashing
Greenwashing, yaitu praktik mengomunikasikan atau menampilkan citra ramah lingkungan tanpa adanya implementasi tindakan keberlanjutan yang konkret, merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kredibilitas pariwisata regeneratif. Tantangan ini tidak terlepas dari dilema antara kepentingan bisnis dan tanggung jawab sosial-lingkungan. Dalam praktiknya, sebagian pelaku industri ingin merespons meningkatnya permintaan pasar terhadap produk wisata yang lebih bertanggung jawab. Namun, pengembangan regeneratif membutuhkan komitmen yang kuat, disertai dengan implementasinya yang juga memerlukan investasi waktu, sumber daya, dan biaya yang tidak sedikit. Alhasil, bisnis-bisnis menonjolkan aksi-aksi yang bersifat simbolis dan mudah dikomunikasikan, dibandingkan dengan melakukan perubahan yang lebih mendasar pada model bisnis maupun rantai pasoknya (Arantes dkk., 2025; Peter, 2024). Akibatnya, klaim regeneratif berisiko menjadi sekadar alat pemasaran tanpa menghasilkan transformasi yang nyata.
Berbagai pihak menekankan pentingnya transparansi, tata kelola yang partisipatif, serta indikator dampak sosial dan lingkungan yang jelas untuk mencegah terjadinya greenwashing dan adopsi konsep regeneratif yang tidak tepat (Hussain & Haley, 2022; Arantes dkk., 2025). Namun, upaya tersebut kembali menghadapi persoalan mendasar yang telah dibahas sebelumnya, yaitu karakter pariwisata regeneratif yang cenderung menolak pendekatan universal dan lebih menekankan konteks lokal. Kondisi ini membuat batas antara praktik yang benar-benar regeneratif dan sekadar klaim regeneratif sering kali sulit ditentukan secara objektif. Menarik memang, bahwa kritik ini kembali membawa kita pada persoalan awal. Ketidakjelasan definisi membuat implementasi yang benar menjadi samar, sementara kesamaran dan kesulitan implementasi tersebut membuka ruang bagi munculnya klaim-klaim regeneratif yang sulit diverifikasi. Dengan demikian, ketiga kritik tersebut sebenarnya bukan isu yang berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat satu sama lain.
Barangkali yang paling relevan bagi kita bukan soal memilih antara “sustainable” dan “regeneratif” sebagai label, melainkan mempertanyakan dampak yang kita tinggalkan. Sebagai wisatawan, pelaku usaha, pengelola destinasi, maupun anggota masyarakat, apakah kehadiran kita membuat suatu tempat menjadi lebih baik, tetap sama, atau justru lebih buruk dari sebelumnya? Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pariwisata bukan terletak pada istilah yang digunakan, melainkan pada kondisi destinasi yang ditinggalkannya.
Referensi Akademik Utama:
- Arantes, L., Vaz, L., & Costa, S. B. (2025). From exclusive to regenerative: The transformative power of luxury tourism. In B. B. Sousa, L. Arantes, & S. Bhartiya (Eds.), Regenerative tourism for social development (pp. 93–118). IGI Global. https://doi.org/10.4018/979-8-3373-0235-5.ch005
- Bellato, L., Frantzeskaki, N., Briceño Fiebig, C., Pollock, A., Dens, E., & Reed, B. (2022). Transformative roles in tourism: adopting living systems’ thinking for regenerative futures. Journal of Tourism Futures, 8(3), 312–329. https://doi.org/10.1108/JTF-11-2021-0256
- Bellato, L., Frantzeskaki, N., Lee, E., Cheer, J. M., & Peters, A. (2024). Transformative epistemologies for regenerative tourism: Towards a decolonial paradigm in science and practice? Journal of Sustainable Tourism, 32(6), 1161–1181. https://doi.org/10.1080/09669582.2023.2208310
- Bellato, L., & Pollock, A. (2023). Regenerative tourism: a state-of-the-art review. Tourism Geographies, 27(3–4), 558–567. https://doi.org/10.1080/14616688.2023.2294366
- Dredge, D. (2022). Regenerative tourism: transforming mindsets, systems and practices. Journal of Tourism Futures, 8(3), 269–281. https://doi.org/10.1108/JTF-01-2022-0015
- Global Sustainable Tourism Council (GSTC). (2023). The Difference Between Regenerative Tourism and Sustainable Tourism. https://www.gstc.org/regenerative-tourism/
- Hussain, A., & Haley, M. (2022). Regenerative tourism model: Challenges of adapting concepts from natural science to tourism industry. Journal of Sustainability and Resilience, 2(1), Article 4. https://digitalcommons.usf.edu/jsr/vol2/iss1/4
- Iddawala, J., & Lee, D. (2026). Regenerative tourism: Context and conceptualisations. Tourism Planning & Development, 23(2), 185–215. 10.1080/21568316.2025.2527614
- Mang, P., & Reed, B. (2012). Regenerative development and design. Encyclopedia of Sustainability Science and Technology. Springer.
- Paddison, B., & Hall, J. (2024). Regenerative tourism development as a response to crisis: harnessing practise-led approaches. Tourism Geographies. Advance online publication. https://doi.org/10.1080/14616688.2024.2381071
- Pollock, A. (2019). Regenerative Tourism: The Natural Maturation of Sustainability. Conscious Travel / Medium.
- Rasoolimanesh, S. M., Rastegar, R., & Higgins-Desbiolles, F. (2026). Bridging sustainable and regenerative tourism through a place-based approach. Journal of Sustainable Tourism, 1–8. Advance online publication. https://doi.org/10.1080/09669582.2026.2650619





