Pada 1 April 2026, TPA Suwung resmi berhenti menerima sampah organik, yang selama ini menyumbang 65% dari total 3.400 ton sampah yang dihasilkan Bali setiap harinya. Hanya 29% dari total itu yang selama ini berhasil dikelola dengan baik.
Dua minggu berselang, ratusan truk sampah mengepung Kantor Gubernur Bali. Asap kebakaran sampah liar terlihat dari jendela pesawat yang mendarat di Ngurah Rai.
Bukan gambar yang ingin dilihat wisatawan.
Tapi ini bukan cerita tentang sampah
Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika sebuah destinasi kelas dunia tidak punya sistem tata kelola yang setara dengan ambisinya.
Bali tidak kekurangan regulasi. Pergub sudah ada. Kewajiban pemilahan sudah tertulis. Sanksi pidana bahkan sudah mengintai sejak UU No. 18/2008. Yang gagal bukan aturannya yang gagal adalah ekosistem implementasinya: kepatuhan sosial yang belum terbangun, infrastruktur hilir yang belum siap, dan kebijakan yang ditetapkan tanpa runway transisi yang realistis.
Hasilnya bisa ditebak. Warga kebingungan. Jasa pengangkut sampah memprotes. Dan pemerintah akhirnya mundur setengah langkah: TPA dibuka lagi dua kali seminggu, sebagai solusi darurat sambil menunggu solusi permanen.
Tarik-ulur ini sudah berlangsung sejak 2025. Dan selama solusi permanen belum siap, siklus ini akan terus berulang.
Ada pola lebih dalam di sini
Masalah yang terjadi di Bali bukan anomali. Ini adalah cermin dari bagaimana banyak destinasi di Indonesia dan Asia mengelola transisi menuju keberlanjutan: kebijakan visioner, implementasi reaktif.
Regulasi ditetapkan. Deadline dipasang. Tapi infrastruktur pendukung, perubahan perilaku, dan kesiapan rantai pasok tertinggal jauh di belakang. Studi internasional dari Jepang, Korea Selatan, hingga Uni Eropa konsisten menunjukkan satu hal: keberhasilan transisi pengelolaan sampah bergantung pada sinergi tiga faktor secara simultan pemilahan di sumber, insentif ekonomi yang nyata, dan penegakan hukum yang konsisten. Jika satu pilar saja kosong, sistem tidak akan berfungsi.
Di Bali, ketiganya belum terpenuhi secara bersamaan. Dan pariwisata lah yang menanggung biaya reputasinya.
Soal PSEL: teknologi ini menjanjikan, tapi bukan tanpa syarat
Pemerintah Provinsi Bali baru saja menandatangani perjanjian kerja sama pembangunan PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) Denpasar Raya pada 13 April 2026, tiga hari sebelum demo truk sampah pecah. Solusi ini sekilas terdengar seperti game-changer.
Dan memang ada preseden yang kuat. Di Tokyo, 19 fasilitas WTE membakar sekitar 8.000 ton sampah per hari dari 9 juta penduduk, menghasilkan listrik senilai USD 78,6 juta per tahun sambil mereduksi volume sampah hingga 1/20-nya. Fasilitas-fasilitas ini dibangun di tengah kota, bukan di pinggiran, dan menjadi objek kunjungan 70.000 siswa setiap tahun. Di Osaki, sebuah kota kecil di Kagoshima dengan 13.000 penduduk, warga memilah sampah ke dalam 27 kategori. Hasilnya: 83.4% sampah berhasil diolah, dan TPA mereka yang dibangun 1992 masih beroperasi hingga hari ini karena hampir tidak terpakai.
Tapi ada satu hal yang membuat Tokyo bisa melakukannya dan kota-kota lain gagal meniru.
Pemilahan di sumber. Sistem WTE Jepang tidak dirancang untuk membakar sampah campur. Ia dirancang untuk membakar residu yang tersisa setelah proses daur ulang dan kompos selesai dilakukan. Teknologi Direct Melting System generasi terbaru di Jepang bahkan mampu mereduksi abu sisa pembakaran hingga hanya 3%, dibanding 15% pada insinerator konvensional, dengan emisi jauh di bawah ambang batas regulasi.
Sebaliknya, membakar sampah organik basah yang tidak terpilah justru kontraproduktif: efisiensi energi turun drastis, dan emisi naik. Riset UNEP mencatat bahwa pembakaran 1 ton sampah dengan teknologi WTE menghasilkan emisi langsung sekitar 1.000–1.100 kg CO₂ (termasuk emisi biogenik). Studi dari Singapura menambahkan bahwa mengalihkan sampah plastik dan sampah makanan dari insinerasi ke jalur daur ulang dan anaerobic digestion bisa memangkas emisi GHG hingga 61%. Artinya: teknologi WTE yang benar, dalam ekosistem yang benar, bisa menjadi bagian dari solusi. Tapi dalam ekosistem yang salah, ia hanya memindahkan masalah dari TPA ke cerobong asap.
Singapura sendiri salah satu benchmark WTE Asia Tenggara kini mulai mempertanyakan kecukupan pendekatannya. Empat fasilitas insinerasi mereka beroperasi penuh, tapi lahan ash disposal di Pulau Semakau semakin terbatas. Solusi berikutnya bukan membangun lebih banyak insinerator, melainkan mendorong source separation secara agresif dan memperluas anaerobic digestion untuk sampah organik.
WTE bukan solusi tunggal tapi lapisan terakhir dari sistem yang dimulai jauh di hulu.
Maka apa yang harus dilakukan sekarang sebelum PSEL beroperasi?
Justru inilah pertanyaan yang paling mendesak. PSEL tidak akan siap dalam waktu dekat. Sementara 3.400 ton sampah terus diproduksi setiap hari.
- Pertama, tata kelola harus diperbaiki sekarang, bukan menunggu teknologi. Infrastruktur TPS3R yang sudah ada perlu dioptimalkan. Pemilahan di tingkat rumah tangga, hotel, dan restoran perlu didorong dengan insentif nyata bukan hanya sanksi. Sistem pengangkutan yang saat ini masih mencampur kembali sampah yang sudah dipilah warga perlu direformasi. Ini bukan pekerjaan yang glamor, tapi ini yang menentukan apakah PSEL nanti bisa berfungsi atau tidak.
- Kedua, sektor pariwisata perlu berhenti menjadi penonton. Hotel, resort, dan pengelola atraksi wisata adalah produsen sampah terbesar di ekosistem pariwisata Bali. Ketika sistem kolaps, tamu yang terdampak adalah tamu mereka. Audit limbah internal, sistem komposter on-site, dan kemitraan dengan jasa pengolahan sampah organik bukan lagi pilihan CSR ini adalah manajemen risiko operasional.
- Ketiga, baca arah jangka panjangnya. Bisnis yang sudah menyiapkan sistem pemilahan hari ini akan punya keunggulan operasional nyata ketika PSEL beroperasi karena fasilitas itu dirancang untuk memproses sampah residu, bukan sampah campur. Semakin banyak sampah yang bisa diolah sendiri di hulu, semakin rendah biaya buang ke hilir.
Bali bukan satu-satunya
Hampir setiap destinasi pariwisata besar Indonesia menghadapi versi masalah yang sama: tekanan kapasitas TPA, minimnya infrastruktur pengolahan berbasis sumber, dan gap antara ambisi sustainability dengan realitas lapangan.
Yang membedakan adalah siapa yang bergerak lebih awal.
Destinasi dan bisnis yang sudah menyusun sustainability roadmap bukan karena diwajibkan, tapi karena memahami bahwa ini adalah fondasi daya saing jangka panjang dan paling siap menghadapi gelombang regulasi berikutnya. Gelombang itu bukan kalau, tapi kapan.
Teknologi WTE adalah babak terakhir dari sistem pengelolaan sampah yang matang. Tapi babak pertamanya pemilahan, tata kelola, dan perubahan perilaku harus dimulai sekarang.
Tanpa itu, PSEL hanya akan menjadi TPA yang lebih mahal.
Wise Steps Consulting membantu destinasi dan bisnis pariwisata menyusun Sustainability Roadmap dan Waste Management Framework yang terintegrasi mulai dari audit, desain strategi, hingga pendampingan implementasi. Konsultasikan kebutuhan Anda: consulting@wisesteps.id
Oleh: Seprian Setiawan, Digital Marketer




