Blog

  1. Home
  2. Blog
  3. 3 Rahasia Sukses Menyelenggarakan Event Ramah Lingkungan

3 Rahasia Sukses Menyelenggarakan Event Ramah Lingkungan

golo mori jazz

Pernah dengar keluhan klien seperti ini “Acaranya ramai, tiket terjual habis, crowd happy, tapi kenapa warga sekitar malah komplain?” Atau “Sponsor senang, tapi kok tim lapangan kewalahan dengan sampah?” 

Di sinilah kita perlu membuka mata. Mengukur keberhasilan event jaman sekarang nggak cukup hanya dari revenue. Semua pihak yang terlibat butuh cerita yang utuh: Apakah acara ini benar-benar membawa dampak baik, atau hanya kelihatan keren di permukaan? 

Mari kita bahas tiga sisi yang sering terlupakan, dengan cara yang ringan.

1. Dampak Ekonomi: Jangan Terpaku pada "Omzet Kotor"

Seringkali penyelenggara event bangga dengan statement, “Acara kita menghasilkan miliaran rupiah!” Tapi pertanyaan besarnya: uang itu berputar di mana? Apakah hanya menguntungkan satu dua vendor besar, atau ikut menggerakkan warung makan dan penginapan kecil di sekitar lokasi? 

Ada teori menarik dari Larry Dwyer dan Peter Forsyth (dua pakar ekonomi event) yang mengatakan bahwa kita perlu lihat efek berganda secara jujur, termasuk apakah uang itu benar-benar ‘baru’ atau hanya pindahan dari kegiatan lain. 

Riset di Banyuwangi (Wahyudi & Kerr, 2025) menunjukkan bahwa festival budaya di yang dilakukan setiap tahunnya berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan hingga lima kali lipat. Yang lebih penting, pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku UMKM lokal. Jadi kuncinya bukan hanya besar, tapi merata.

2. Dampak Sosial: Apakah Warga Sekitar Tersenyum atau Meringis?

Nah, ini yang paling sering luput. Kita bisa saja punya event super megah, tapi kalau warga sekitar stres karena macet, berisik, atau merasa terganggu oleh ‘suasana asing’, maka acara itu sebenarnya gagal secara sosial. 

Donald Getz, dalam bukunya Event Impact Assessment, mengatakan bahwa dampak sosial itu justru paling bertahan lama. Misalnya: apakah setelah event, warga jadi lebih percaya satu sama lain? Atau malah sebaliknya, timbul rasa iri atau ketegangan? 

Contoh dari Surabaya (Novitasari & Navitas, 2024), sebuah greening event skala kota ternyata tidak hanya membuat lingkungan lebih asri, tapi juga memperkuat gotong royong warga. Masyarakat menjadi lebih sering melakukan diskusi/ rapat, kerja bakti, dan saling jaga. Itulah dampak sosial positif.

3. Dampak Lingkungan: Urusan Sampah dan Jejak Karbon Itu Serius

Jujur saja, ini adalah sisi yang paling sering ditunda-tunda. “Nanti saja urusan daur ulangnya.” Atau: “Yang penting acara selesai, revenue meningkat.” 

Padahal menurut Katie Schlenker (2025) dalam jurnal Event Management, pengukuran dampak lingkungan event masih sangat lemah. Banyak penyelenggara tidak punya data berapa banyak emisi karbon yang dihasilkan dari transportasi peserta, atau berapa ton sampah yang benar-benar didaur ulang.

Belajar dari event di dalam negeri: Synchronize Festival berhasil menurunkan sampah dari 11 ton pada 2022 menjadi 7,1 ton pada 2023, meskipun jumlah pengunjung naik. Sementara itu, Makassar International Writers Festival (MIWF) 2024 menghitung emisi kegiatannya mencapai 17 ton CO2, lalu mengkompensasinya dengan menanam 335 pohon mangrove.

Belajar dari event di luar negeri: Festival Roskilde di Denmark memungkinkan pengunjung menyewa perlengkapan camping dengan deposit yang bisa dikembalikan. Hasilnya, pada 2024 terjadi peningkatan hampir 25% jumlah pengunjung yang menyewa dibanding tahun sebelumnya. Mereka juga memiliki Circular Lab, semacam pameran sementara yang mempertemukan pelaku usaha ramah lingkungan dengan audiens festival. Di Estonia, Festival Lagu dan Tari (yang masuk warisan budaya UNESCO) berhasil menghindari lebih dari 3,5 ton sampah plastik hanya dengan menerapkan sistem peralatan makan yang bisa dicuci dan dipakai ulang.

Kabar baiknya, menurut Koalisi Seni Indonesia, acara ramah lingkungan justru bisa menghemat biaya produksi dalam jangka panjang. Laporan Julie’s Bicycle menunjukkan 47% organisasi yang menerapkan strategi ramah lingkungan merasakan keuntungan finansial langsung, karena itu sejumlah festival musik dan acara seni mulai serius mencatat dan mengurangi dampak lingkungannya.

Jadi, mari kita mulai dengan langkah kecil, seperti:

  • Buat peta dampak sebelum acara. Tanyakan kepada diri sendiri dan tim: “siapa saja yang akan diuntungkan dan siapa yang mungkin terganggu?” 
  • Kumpulkan data sederhana tapi jujur. Bisa lewat survei singkat ke penjual makanan, warga sekitar, dan relawan. Jangan hanya andalkan angka tiket masuk.  
  • Laporkan hasilnya secara terbuka. Jika ada dampak negatif, akui. Jika ada yang positif, banggakan. Semua pihak yang terlibat akan lebih dihormati karena transparan.

Pada akhirnya, event yang baik bukan hanya yang ramai di timeline, tapi yang membuat semua orang, dari peserta, vendor, hingga warga sekitar, merasa acara itu adalah milik bersama. Untuk event sekelas festival atau konferensi, kita setidaknya bisa memulai dengan hal sederhana: hitung jejak karbon, kelola sampah dengan tegas, dan laporkan secara transparan. 

Dan ketika ada pihak datang dengan bangga memegang laporan keuangan tebal, tersenyumlah lalu tanyakan baik-baik: “Luar biasa, Pak/Bu. Tapi, bagaimana dengan cerita dari warung tegal sebelah lokasi acara?”

Sumber Referensi:

Milla Omarsaid

Oleh: Milla Omarsaid
Senior Analyst Wise Steps Consulting

Artikel Terkait

Menu
English »