Dalam pengembangan pariwisata, perhatian sering kali terfokus pada jumlah kunjungan, kontribusi ekonomi, dan pertumbuhan pasar. Namun, satu aspek yang kerap terlewat padahal sangat krusial adalah sentimen masyarakat lokal. Bagaimana masyarakat merasakan kehadiran wisatawan? Apakah pariwisata dipersepsikan sebagai peluang, gangguan, atau bahkan ancaman?
Ketika suara masyarakat lokal diabaikan, berbagai risiko dapat muncul: konflik sosial, penolakan terhadap wisatawan, penurunan kualitas pengalaman, hingga krisis reputasi destinasi. Di sinilah Doxey Irritation Index (Doxey’s Irridex) menjadi relevan sebagai kerangka konseptual untuk memahami dinamika sosial antara masyarakat lokal dan aktivitas pariwisata.
Apa Itu Doxey Irritation Index?
Doxey Irritation Index diperkenalkan oleh George V. Doxey pada awal 1970-an sebagai model untuk menggambarkan perubahan sikap masyarakat lokal terhadap pariwisata seiring dengan meningkatnya intensitas dan skala pengembangan destinasi.
Model ini berangkat dari asumsi: pada tahap awal, pariwisata cenderung disambut positif, tetapi tanpa pengelolaan yang sensitif dan inklusif, antusiasme tersebut dapat berubah menjadi kejengkelan hingga penolakan terbuka oleh masyarakat.
Doxey membagi dinamika ini ke dalam empat tahap utama: Euphoria, Apathy, Irritation, dan Antagonism.

Tahap 1: Euphoria
Pada fase ini, pariwisata baru memasuki tahap awal pengembangan. Jumlah wisatawan masih terbatas, dan interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal berlangsung secara personal dan organik. Wisatawan dipandang sebagai tamu yang membawa peluang ekonomi sekaligus perspektif baru bagi komunitas. Pemerintah belum merasa perlu menerapkan regulasi yang ketat, dan pelaku usaha lokal mulai merasakan pertumbuhan pendapatan yang nyata.
Implikasi bagi destinasi:
Merupakan fase paling krusial untuk membangun fondasi pengelolaan destinasi dan hubungan dengan masyarakat lokal. Ketidaksiapan di tahap ini sering menjadi akar masalah di fase berikutnya
Tahap 2: Apathy
Seiring meningkatnya volume kunjungan, hubungan antara masyarakat dan wisatawan mengalami pergeseran karakter. Interaksi yang semula bersifat personal mulai berubah menjadi transaksional. Wisatawan tidak lagi dipandang sebagai tamu, melainkan sebagai sumber pendapatan. Yang perlu diwaspadai pada tahap ini adalah sifatnya yang tidak kentara. Tidak ada keluhan eksplisit, tidak ada protes terbuka. Namun di balik ketenangan itu, jarak sosial antara masyarakat dan industri pariwisata diam-diam melebar dan partisipasi warga dalam pengembangan destinasi mulai menyempit hanya pada kelompok-kelompok yang terlibat langsung secara ekonomi.
Implikasi bagi destinasi:
Pada tahap Apathy, tanda-tanda awal perubahan sikap masyarakat sering kali tidak terlihat secara eksplisit. Namun, sentimen netral ini menyimpan potensi risiko jika tidak ditindaklanjuti melalui pendekatan yang tepat.
Tahap 3: Irritation
Tekanan pariwisata mulai dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kemacetan yang semakin parah, kenaikan harga lahan dan kebutuhan pokok, penurunan kualitas lingkungan, hingga perilaku wisatawan yang dianggap kurang menghormati norma lokal, semuanya menjadi sumber keluhan yang semakin sering terdengar. Pada fase ini, keluhan umumnya masih bersifat sporadis dan belum terorganisir. Namun pola ini adalah sinyal awal yang tidak boleh diabaikan: kapasitas sosial destinasi mulai terlampaui oleh tekanan aktivitas pariwisata.
Implikasi bagi destinasi:
Pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat namun seringkali tidak terencana. Karena semua orang senang, pengawasan lingkungan dan regulasi sering diabaikan demi keuntungan jangka pendek.
Tahap 4: Antagonism
Frustasi yang terakumulasi dari fase-fase sebelumnya akhirnya mencapai titik didihnya. Masyarakat tidak lagi sekadar mengeluh, mereka secara aktif menentang kehadiran wisatawan. Protes terbuka, kampanye negatif di ruang publik, hingga pembatasan akses oleh komunitas adat menjadi ekspresi dari antagonisme yang sudah mengakar. Yang perlu dipahami adalah: pada fase ini, industri pariwisata itu sendiri yang mulai menanggung kerugian. Destinasi mendapatkan citra buruk, kualitas pengalaman wisatawan menurun, dan ekonomi lokal yang bergantung pada pariwisata ikut terpukul. Semua pihak dirugikan.
Implikasi bagi destinasi:
Pada fase ini, biaya pemulihan, baik sosial, ekonomi, maupun reputasi menjadi sangat tinggi. Destinasi mulai mendapatkan citra buruk (“Tourist Trap” atau tidak aman), yang ironisnya akan mematikan industri pariwisata itu sendiri.
Ringkasan Empat Tahap Doxey Irritation Index
| Tahap | Kondisi Wisatawan | Sikap Masyarakat |
| Euphoria | Terbatas, baru | Antusias dan terbuka |
| Apathy | Meningkat signifikan | Netral dan transaksional |
| Irritation | Padat / mendekati jenuh | Mulai kesal, keluhan muncul |
| Antagonism | Berlebih / tidak terkendali | Penolakan aktif dan terbuka |
Studi Kasus: Dari Teori ke Realitas
Doxey Irritation Index bukan semata kerangka konseptual. Pola yang ia gambarkan dapat diamati secara konkret di berbagai destinasi dunia, termasuk di destinasi-destinasi yang selama ini dianggap paling berhasil dalam pengembangan pariwisatanya.
Barcelona
Barcelona adalah salah satu kota destinasi wisata global. Namun di balik angka kunjungan yang impresif, tekanan sosialnya kini mencapai titik kritis. Selama satu dekade terakhir, The Guardian melaporkan bahwa harga sewa hunian di Barcelona melonjak hingga 68%, dengan fenomena Airbnb-ification, konversi besar-besaran properti hunian menjadi akomodasi wisata jangka pendek, sebagai salah satu faktor pendorongnya. Dengan 12 juta wisatawan per tahun bersaing memperebutkan ruang dan sumber daya bersama 1,6 juta penduduk, tekanan terhadap kualitas hidup warga menjadi semakin nyata.
Puncaknya terjadi pada musim panas 2024, ketika warga turun ke jalan dengan pistol air, menyemprotkan air ke wisatawan sambil membawa spanduk: “Tourists go home. Barcelona is not for sale.” Ini bukan ekspresi spontan dari segelintir orang, ini adalah luapan frustrasi kolektif yang sudah lama terakumulasi.
Pelajaran dari Barcelona:
Pariwisata bisa terlihat sukses secara statistik, namun gagal secara sosial. Ketika warga tidak lagi mampu tinggal di kota mereka sendiri karena tekanan ekonomi yang dipicu pariwisata, maka Antagonism dapat muncul karena telah berkaitan dengan soal keberlangsungan hidup.
Bali
Sekitar 70 persen aktivitas pariwisata Bali masih terpusat di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan). Kawasan ini menanggung sebagian besar tekanan dari industri yang secara administratif mencakup seluruh pulau. Artinya, ketika berbicara tentang sentimen masyarakat lokal berdasarkan Doxey Irritation Index di Bali, jawabannya bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan lingkup destinasi, di mana tepatnya seseorang tinggal dan beraktivitas.
Namun, secara umum, salah satu indikator yang paling konkret untuk membaca tekanan pariwisata di Bali adalah ketersediaan air. Walhi mencatat bahwa industri perhotelan mengonsumsi 56 persen dari total sumber daya air yang ada di Bali. Sementara petani, warga biasa, dan ekosistem lokal berbagi sisanya. Ini adalah cerminan dari ketidakseimbangan distribusi manfaat dan beban pariwisata. Ketika warga di kawasan padat wisata mengalami kesulitan air bersih di musim kemarau, sementara kolam renang hotel di sebelah rumah mereka tetap penuh.
Yang membuat situasi Bali lebih rumit adalah sifat ketergantungannya yang tinggi terhadap pariwisata. Berbeda dari Barcelona yang memiliki basis ekonomi lebih beragam, Bali tidak punya banyak pilihan untuk “mengurangi” pariwisata tanpa konsekuensi ekonomi yang serius.
Bank Indonesia memproyeksikan bahwa apabila pengembangan pariwisata berkualitas terhambat, pertumbuhan ekonomi Bali berpotensi turun 0,30 hingga 0,60 persen, sementara kunjungan wisatawan mancanegara bisa merosot 0,87 hingga 1,74 persen. Ini adalah pengingat bahwa tekanan terhadap masyarakat dan tekanan terhadap industri bukan dua hal yang terpisah, keduanya saling terkait, dan ketidakseimbangan di salah satu sisi akan berdampak pada sisi lainnya.
Pelajaran dari Bali:
Bali memperlihatkan bahwa tekanan pariwisata datang dari berbagai isu kompleks dan struktural, seperti ketergantungan terhadap pariwisata yang harus disandingkan secara bersamaan dengan isu air, limbah, kenaikan harga lahan, atau kemacetan menahun. Ketika ketergantungan ekonomi terhadap pariwisata sudah setinggi ini, ruang untuk koreksi kini menjadi sangat sempit.
Menjaga Pariwisata Tetap Diterima oleh Masyarakat
Doxey Irritation Index mengingatkan kita pada satu prinsip dasar yang sering terlupakan dalam pengembangan pariwisata: keberhasilan jangka panjang sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang, tetapi juga bagaimana sentimen masyarakat lokal dalam menerima wisatawan di wilayahnya
Barcelona dan Bali adalah pengingat bahwa pergeseran sentimen itu bukan proses yang terjadi secara tiba-tiba. Ia berlangsung bertahap, sering kali tidak terdeteksi, hingga pada satu titik menjadi sangat mahal untuk dibalikkan.
Dengan memahami dinamika ini lebih awal, dan mengukurnya secara berkala, destinasi dan pelaku usaha memiliki kesempatan nyata untuk menjaga keberlanjutan, tidak hanya keberlanjutan lingkungan, tetapi yang lebih fundamental: keberlanjutan hubungan dengan masyarakat yang menopang seluruh ekosistem pariwisata itu.
Dari Teori ke Praktik: Mengapa Pengukuran Sentimen Warga Sangat Penting?
Dalam konteks pariwisata modern terutama isu overtourism, konflik sosial, dan penerimaan masyarakat memahami posisi destinasi dalam spektrum Doxey menjadi kebutuhan strategis.
Pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah masyarakat terdampak, tetapi:
- Siapa yang terdampak?
- Dalam aspek apa (ekonomi, sosial, budaya, lingkungan)?
- Seberapa besar toleransi dan kapasitas sosial masyarakat?
Jawaban atas pertanyaan ini hanya dapat diperoleh melalui pendekatan terstruktur dan sistematis.
Resident Sentiment & Impact Assessment: Pendekatan Berbasis Data
Di Wise Steps Consulting, kami menerjemahkan kerangka konseptual seperti Doxey Irritation Index ke dalam pendekatan praktis melalui produk Resident Sentiment & Impact Assessment: Understanding How Your Operations Affect Local Communities.
Pendekatan ini dirancang untuk membantu:
- Destinasi pariwisata
- Bisnis Pariwisata
- Investor
- Pembuat kebijakan
untuk memahami posisi nyata sentimen masyarakat lokal, bukan sekadar asumsi.
Apa yang kami identifikasi?
- Overall Community Sentiment Overview (Doxey Irritation Index)
- Aspect-Based Impact Analysis (Natural, cultural, social, human, built, financial, and political capital)
- Deep-Dive Insights From Community Voices
- Area-Based Resident Mapping




