Blog

  1. Home
  2. Blog
  3. Doxey Irritation Index

Doxey Irritation Index

Doxey Irritation Index

Dalam pengembangan pariwisata, perhatian sering kali terfokus pada jumlah kunjungan, kontribusi ekonomi, dan pertumbuhan pasar. Namun, satu aspek yang kerap terlewat padahal sangat krusial adalah sentimen masyarakat lokal. Bagaimana masyarakat merasakan kehadiran wisatawan? Apakah pariwisata dipersepsikan sebagai peluang, gangguan, atau bahkan ancaman?

Ketika suara masyarakat lokal diabaikan, berbagai risiko dapat muncul: konflik sosial, penolakan terhadap wisatawan, penurunan kualitas pengalaman, hingga krisis reputasi destinasi. Di sinilah Doxey Irritation Index (Doxey’s Irridex) menjadi relevan sebagai kerangka konseptual untuk memahami dinamika sosial antara masyarakat lokal dan aktivitas pariwisata.

Apa Itu Doxey Irritation Index?

Doxey Irritation Index diperkenalkan oleh George V. Doxey pada awal 1970-an sebagai model untuk menggambarkan perubahan sikap masyarakat lokal terhadap pariwisata seiring dengan meningkatnya intensitas dan skala pengembangan destinasi.

Model ini berangkat dari asumsi: pada tahap awal, pariwisata cenderung disambut positif, tetapi tanpa pengelolaan yang sensitif dan inklusif, antusiasme tersebut dapat berubah menjadi kejengkelan hingga penolakan terbuka oleh masyarakat.

Doxey membagi dinamika ini ke dalam empat tahap utama: Euphoria, Apathy, Irritation, dan Antagonism.

Tahap Doxey Irritation Index

Tahap 1: Euphoria

Pada fase Euphoria, pariwisata masih berada pada tahap awal pengembangan. Jumlah wisatawan relatif terbatas, dan interaksi antara wisatawan dan masyarakat lokal berlangsung secara personal serta informal.

Karakteristik utama:

  • Wisatawan dipersepsikan sebagai “tamu”
  • Minim konflik sosial atau tekanan terhadap sumber daya
  • Pemerintah dan pelaku usaha belum menerapkan regulasi ketat

Implikasi bagi destinasi:

Merupakan fase paling krusial untuk membangun fondasi pengelolaan destinasi dan hubungan dengan masyarakat lokal. Ketidaksiapan di tahap ini sering menjadi akar masalah di fase berikutnya.

Tahap 2: Apathy

Seiring meningkatnya jumlah kunjungan, hubungan antara masyarakat dan wisatawan mulai berubah. Interaksi menjadi lebih transaksional dan kurang personal.

Karakteristik utama:

  • Wisatawan dianggap sebagai sumber pendapatan, bukan lagi tamu semata
  • Interaksi mulai didominasi oleh kepentingan ekonomi
  • Partisipasi masyarakat mulai terbatas pada kelompok tertentu

Implikasi bagi destinasi:

Pada tahap Apathy, tanda-tanda awal perubahan sikap masyarakat sering kali tidak terlihat secara eksplisit. Namun, sentimen netral ini menyimpan potensi risiko jika tidak ditindaklanjuti melalui pendekatan yang tepat.

Tahap 3: Irritation

Pada fase Irritation, tekanan pariwisata mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat lokal.

Karakteristik utama:

  • Kemacetan, kenaikan harga lahan dan kebutuhan pokok
  • Penurunan kualitas lingkungan dan ruang hidup
  • Muncul keluhan terhadap perilaku wisatawan
  • Persepsi bahwa pemerintah lebih berpihak pada industri

Implikasi bagi destinasi:

Keluhan pada tahap ini sering kali bersifat sporadis dan belum terorganisir. Namun, ini merupakan alarm awal bahwa kapasitas sosial destinasi mulai tertekan oleh aktivitas pariwisata.

Tahap 4: Antagonism

Tahap terakhir adalah Antagonism, ketika frustasi berubah menjadi penolakan eksplisit terhadap pariwisata.

Karakteristik utama:

  • Protes terhadap wisatawan atau proyek pariwisata
  • Sentimen negatif di media dan ruang publik
  • Wisatawan dipersalahkan atas berbagai masalah sosial
  • Menurunnya kualitas pengalaman wisata

Implikasi bagi destinasi:

Pada fase ini, biaya pemulihan, baik sosial, ekonomi, maupun reputasi menjadi sangat tinggi. Destinasi mulai mendapatkan citra buruk (“Tourist Trap” atau tidak aman), yang ironisnya akan mematikan industri pariwisata itu sendiri.

Penutup: Menjaga Pariwisata Tetap Diterima oleh Masyarakat

Doxey Irritation Index mengingatkan kita bahwa keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi juga dari bagaimana masyarakat lokal memaknai perubahan yang terjadi di wilayah mereka.

Dengan memahami dinamika sentimen masyarakat sejak dini dan mengukurnya secara berkala, destinasi dan pelaku usaha dapat mengambil langkah preventif sebelum euphoria berubah menjadi antagonism.

Dari Teori ke Praktik: Mengapa Pengukuran Sentimen Warga Sangat Penting?

Dalam konteks pariwisata modern terutama isu overtourism, konflik sosial, dan penerimaan masyarakat memahami posisi destinasi dalam spektrum Doxey menjadi kebutuhan strategis.

Pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah masyarakat terdampak, tetapi:

  • Siapa yang terdampak?
  • Dalam aspek apa (ekonomi, sosial, budaya, lingkungan)?
  • Seberapa besar toleransi dan kapasitas sosial masyarakat?

Jawaban atas pertanyaan ini hanya dapat diperoleh melalui pendekatan terstruktur dan sistematis.

Resident Sentiment & Impact Assessment: Pendekatan Berbasis Data

Di Wise Steps Consulting, kami menerjemahkan kerangka konseptual seperti Doxey Irritation Index ke dalam pendekatan praktis melalui produk Resident Sentiment & Impact Assessment: Understanding How Your Operations Affect Local Communities.

Pendekatan ini dirancang untuk membantu:

  • Destinasi pariwisata
  • Bisnis Pariwisata
  • Investor
  • Pembuat kebijakan

untuk memahami posisi nyata sentimen masyarakat lokal, bukan sekadar asumsi.

Apa yang kami identifikasi?

  • Overall Community Sentiment Overview (Doxey Irritation Index)
  • Aspect-Based Impact Analysis (Natural, cultural, social, human, built, financial, and political capital)
  • Deep-Dive Insights From Community Voices
  • Area-Based Resident Mapping

Mengapa ini penting?

Mitigasi Risiko dan Pencegahan Konflik

Masalah dengan masyarakat setempat yang tidak terselesaikan dapat menyebabkan gangguan operasional, kerusakan reputasi, atau penolakan terhadap pengembangan di masa depan.

  • Identifikasi Titik Gesekan: Audit ini mengidentifikasi sumber spesifik penyebab keresahan (contoh: masalah air, partisipasi lokal, dll).
  • Memantau Tingkat Keresahan: Memetakan sentimen berdasarkan Indeks Doxey (Euphoria / Euforia, Apathy / Apati, Annoyance / Kejengkelan, Antagonism / Antagonisme).

Kepatuhan ESG dan Dukungan Sertifikasi

Aspek & kriteria keberlanjutan tidak lagi bersifat opsional bagi perusahaan ternama. Namun, aspek ‘Sosial’ sering kali masih bersifat samar.

  • Metrik yang Terukur: Audit ini mengonversi sentimen masyarakat menjadi data kuantitatif.
  • Kesiapan Sertifikasi: Standar global (seperti EarthCheck, GSTC, dll) sering kali mewajibkan adanya bukti konsultasi dan kepuasan masyarakat setempat.

Artikel Terkait

Menu
English »