Blog

  1. Home
  2. Blog
  3. Sustainability Management System

Sustainability Management System

Sustainability Management System - Cover

Banyak bisnis pariwisata sudah punya program keberlanjutan. Penanaman pohon, dukungan komunitas lokal hingga penggunaan bahan-bahan lokal dan semuanya sudah berjalan. Tapi satu pertanyaan yang sering tidak terjawab adalah: apakah program tersebut benar-benar berdampak?

Jika tidak ada sistem yang mengelolanya, jawabannya sering kali: tidak tahu. Dan “tidak tahu” adalah masalah serius dalam keberlanjutan.

Masalah dengan Pendekatan Berbasis Program

Dalam banyak kasus, program keberlanjutan dijalankan pada momentum tertentu, oleh orang tertentu, lalu hasilnya dipublikasikan sebagai bentuk komitmen organisasi. Dampaknya jarang diukur secara konsisten. Ketika orang kunci keluar dari organisasi, program pun berhenti.

Ini bukan berarti programnya salah. Masalahnya adalah tidak ada sistem yang menopangnya.

Apa Itu Sustainability Management System?

Sustainability Management System (SMS) adalah kerangka kerja yang membantu organisasi mengelola praktik keberlanjutan secara terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. SMS mencakup proses mulai dari penetapan tujuan, penerjemahan tujuan ke dalam aksi nyata, pendokumentasian kegiatan, hingga monitoring dan evaluasi.

Cakupannya luas: lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, kualitas, hak asasi manusia, serta kesehatan dan keselamatan.

Yang membedakan SMS dari sekadar program adalah bahwa SMS terintegrasi dalam operasional sehari-hari bukan kegiatan tambahan yang dilakukan di luar pekerjaan utama.

Pendekatan ini juga menjadi dasar yang digunakan dalam berbagai standar dan kerangka keberlanjutan internasional. Oleh karena itu, organisasi yang ingin meningkatkan kinerja keberlanjutan atau mempersiapkan proses sertifikasi biasanya perlu memastikan bahwa sistem manajemennya telah berjalan secara efektif dan terdokumentasi dengan baik.

Mengapa Keberlanjutan Membutuhkan Sistem?

Aspek Pendekatan Program Pendekatan Sistem
Pendekatan Ad hoc Terstruktur
Pengukuran Tidak ada KPI yang jelas Memiliki KPI dan monitoring
Ketergantungan Pada individu Terintegrasi dalam organisasi
Fokus Aktivitas Proses dan pengelolaan
Dampak Tidak konsisten Terencana dan berkelanjutan
Sifat Insidental Berkelanjutan

Empat alasan utama mengapa sistem lebih kuat dari program:

  1. Tidak bergantung pada satu orang. Sistem memastikan praktik tetap berjalan meskipun terjadi pergantian staf atau perubahan kepemimpinan.
  2. Dapat diukur dan dievaluasi. Efektivitas program hanya bisa diketahui jika ada indikator yang jelas dan data yang dikumpulkan secara konsisten.
  3. Terintegrasi dalam operasional. Keberlanjutan bukan pekerjaan tambahan dengan sistem yang baik, ini menjadi bagian dari standar operasional.
  4. Dapat berkembang. Sistem memungkinkan praktik keberlanjutan untuk diperluas seiring pertumbuhan bisnis, tanpa harus membangun ulang dari awal.

Pada dasarnya, keberadaan sistem bukan menggantikan program, tetapi justru memperkuat dan memastikan program tersebut berjalan secara konsisten dan berdampak.

Bagaimana SMS Bekerja: Siklus PDCA

SMS umumnya menggunakan pendekatan PDCA (Plan–Do–Check–Act), siklus manajemen yang dapat diterapkan pada berbagai jenis dan skala organisasi.

Plan Do
Penetapan komitmen dan target dan Penyusunan rencana aksi yang terukur  Implementasi program dan Penyediaan sumber daya dan panduan operasional 
Check Act
Monitoring dan pengukuran kinerja Evaluasi dan tindakan perbaikan berkelanjutan

Contoh: Sebuah hotel ingin mengurangi konsumsi energi, tetapi tidak memiliki data historis yang terdokumentasi.

Plan: Hotel menetapkan target pengurangan energi yang spesifik dalam jangka waktu tertentu, lalu menyusun rencana aksi misalnya penggantian lampu LED dan pengaturan suhu AC secara terpusat.

Do: Inisiatif dijalankan. Penggunaan energi mulai dicatat secara rutin setiap bulan sebagai data dasar.

Check: Di akhir setiap periode, data dievaluasi. Apakah konsumsi turun sesuai target yang ditetapkan?

Act: Jika belum tercapai, strategi disesuaikan. Jika berhasil, target dinaikkan atau praktik yang sama diperluas ke area lain.

Siklus ini memastikan bahwa keberlanjutan tidak berhenti di implementasi, tetapi terus dievaluasi dan ditingkatkan secara berkelanjutan.

Agar siklus tersebut dapat berjalan secara efektif, organisasi memerlukan data dan dokumentasi yang memadai pada setiap tahap. Target yang ditetapkan pada tahap Plan membutuhkan data dasar (baseline) yang akurat. Aktivitas pada tahap Do perlu didokumentasikan. Pada tahap Check, data digunakan untuk mengukur pencapaian target, sementara pada tahap Act hasil evaluasi menjadi dasar untuk menentukan tindakan perbaikan berikutnya.

Karena itu, Sustainability Management System tidak hanya berbicara tentang program yang dijalankan, tetapi juga bagaimana organisasi mengelola informasi keberlanjutan secara sistematis. Semakin kompleks organisasi, semakin penting pula adanya mekanisme yang membantu proses pencatatan, monitoring, evaluasi, dan pelaporan dilakukan secara terstruktur dan mudah ditelusuri.

Mengapa Data dan Dokumentasi Penting?

Salah satu tantangan yang sering dihadapi organisasi adalah memastikan bahwa seluruh aktivitas keberlanjutan dapat dibuktikan dan dievaluasi secara konsisten. Program yang berjalan tanpa dokumentasi dan data yang memadai akan sulit diukur efektivitasnya, bahkan ketika dampaknya sebenarnya positif.

Data dan dokumentasi yang terdokumentasi dengan baik membantu organisasi menetapkan target yang realistis, memantau perkembangan kinerja, mengevaluasi pencapaian, serta menyusun laporan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada berbagai pemangku kepentingan. Seiring berkembangnya kebutuhan organisasi, banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan sistem atau dashboard keberlanjutan untuk mengelola berbagai informasi tersebut secara lebih terintegrasi dan efisien.

Implementasi di Berbagai Skala Bisnis

SMS tidak harus kompleks untuk bisa efektif. Skala implementasinya menyesuaikan kapasitas organisasi.

1. Bisnis Skala Kecil

Bisnis skala kecil dapat memulai dengan komitmen sederhana: identifikasi 2–3 risiko atau peluang utama, tetapkan program prioritas, dan lakukan pencatatan rutin. Satu orang pun bisa mengelola sistem ini jika mekanismenya jelas. Fokus awal biasanya pada efisiensi energi dan air, pengelolaan limbah dasar, serta keterlibatan komunitas lokal. Sistem pada skala ini cenderung lebih fleksibel dan berorientasi pada implementasi langsung.

2. Bisnis Skala Besar

Bisnis skala besar atau multi-property memerlukan sistem yang lebih formal: target yang terdokumentasi, tim khusus, dashboard monitoring terpusat, dan internal audit berkala. Cakupannya pun lebih luas termasuk pengurangan emisi karbon, evaluasi rantai pasok, hingga perlindungan biodiversitas.

Yang penting bukan seberapa canggih sistemnya, tetapi seberapa konsisten sistemnya dijalankan.

SMS sebagai Fondasi Sertifikasi Keberlanjutan

Bagi organisasi yang sedang mempertimbangkan sertifikasi keberlanjutan, SMS adalah fondasi yang paling sering dinilai. Berbagai standar keberlanjutan, termasuk GSTC, tidak hanya melihat program yang dijalankan, tetapi juga bagaimana organisasi menetapkan target, mendokumentasikan aktivitas, memantau kinerja, serta melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Sertifikasi tidak hanya memeriksa program apa yang sudah dilakukan, tetapi apakah program tersebut terintegrasi dalam sistem organisasi dan dijalankan secara konsisten bukan sekadar sebagai kegiatan sesekali.

Dengan adanya SMS yang jelas, seluruh aktivitas terdokumentasi, terukur, dan dapat diverifikasi. Tanpa sistem yang terdokumentasi, proses verifikasi akan jauh lebih sulit bahkan jika praktik keberlanjutannya sudah baik secara substansi.

Mulai dari Mana?

Organisasi yang sudah memiliki berbagai inisiatif keberlanjutan sebenarnya sudah punya fondasi. Langkah selanjutnya adalah mengorganisasikannya menjadi sistem bukan menambah program baru.

Itu berarti: dokumentasikan apa yang sudah ada, tetapkan target yang terukur, bangun mekanisme monitoring sederhana, dan evaluasi secara berkala. Sistem tidak harus sempurna di awal yang penting mulai dan konsisten.

Dengan pendekatan yang tepat, berbagai inisiatif yang sudah ada dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan prosedur yang jelas, serta mudah dijalankan dalam aktivitas operasional sehari-hari.

“Keberlanjutan bukan tentang apa yang dilakukan sesekali, tetapi bagaimana aktivitas tersebut direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi secara berkelanjutan.”

Annisa Dwi Febrianty

Penulis: Annisa Dwi Febrianty, Senior Analyst WSC

Artikel Terkait

Menu
English »