Blog

  1. Home
  2. Blog
  3. Mengenal GSTC Standard: Acuan Pariwisata Berkelanjutan di 100+ Negara

Mengenal GSTC Standard: Acuan Pariwisata Berkelanjutan di 100+ Negara

Mengenal GSTC Standard

Bayangkan Anda sedang mencari hotel untuk perjalanan bisnis ke luar negeri. Di antara ratusan pilihan, beberapa properti mencantumkan label “GSTC Recognized” atau “GSTC Certified.” Apakah label itu bermakna? Apakah layak dijadikan pertimbangan?

Jawabannya: sangat layak.

GSTC Standard hari ini digunakan oleh lebih dari 50 lembaga sertifikasi di seluruh dunia, diadopsi oleh ribuan destinasi wisata, hotel, dan operator perjalanan di lebih dari 100 negara, serta diakui secara resmi oleh UNWTO sebagai kerangka global untuk pariwisata berkelanjutan.

Namun di Indonesia, pemahaman tentang GSTC masih jauh dari merata. Banyak pelaku industri yang sudah mendengar namanya, tapi belum benar-benar memahami apa yang diukur, siapa yang ada di baliknya, dan bagaimana standar ini bisa relevan untuk bisnis atau destinasi mereka.

Artikel ini menjawab semua pertanyaan itu dari awal.

Apa Itu GSTC dan Siapa yang Ada di Baliknya?

Global Sustainable Tourism Council (GSTC) adalah lembaga independen dan nirlaba yang bertugas menetapkan dan mengelola standar global untuk pariwisata berkelanjutan. Didirikan pada 2007 atas inisiatif bersama berbagai organisasi internasional termasuk Rainforest Alliance, UNEP, UN Tourism, dan the Travel Foundation. GSTC lahir dari kebutuhan mendesak: dunia memerlukan satu bahasa yang sama untuk mengukur dan mengkomunikasikan keberlanjutan dalam pariwisata.

Sebelum GSTC ada, lanskap sertifikasi pariwisata berkelanjutan sangat terfragmentasi. Ada ratusan label dan sertifikasi berbeda di berbagai negara, dengan kriteria yang tidak konsisten dan sering kali tidak bisa saling diverifikasi. Wisatawan dan buyer global tidak punya cara yang andal untuk membedakan mana yang substansial, mana yang sekadar greenwashing.

GSTC hadir untuk menyelesaikan masalah itu.

Siapa Anggota GSTC?

Keanggotaan GSTC mencerminkan jangkauan dan otoritasnya. Anggotanya mencakup:

  • Pemerintah nasional dan daerah dari berbagai negara, termasuk otoritas pariwisata nasional
  • Rantai hotel internasional seperti Marriott, Hilton, dan IHG yang menggunakan GSTC sebagai referensi program sustainability korporat mereka
  • Operator perjalanan global seperti TUI Group dan Intrepid Travel
  • Lembaga keuangan dan pembangunan seperti IFC (International Finance Corporation)
  • Akademisi dan peneliti dari universitas-universitas terkemuka di bidang pariwisata
  • Komunitas lokal dan NGO yang bekerja di bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat

Keragaman ini bukan sekadar daftar nama. Ini mencerminkan fakta bahwa GSTC Standard dibentuk melalui proses konsultasi multi-pihak yang panjang bukan ditetapkan sepihak oleh satu kelompok kepentingan.

GSTC vs ISO vs Label Sustainability Lainnya: Apa Bedanya?

Pertanyaan ini sering muncul, terutama dari pelaku industri yang sudah familiar dengan sistem sertifikasi lain.

GSTC bukan lembaga sertifikasi. GSTC adalah standard-setter yang menetapkan kriteria dan mengakreditasi lembaga sertifikasi yang kemudian menilai dan mensertifikasi bisnis atau destinasi. Ini mirip dengan bagaimana ISO menetapkan standar, sementara audit dilakukan oleh lembaga terakreditasi yang terpisah.

Bedanya dengan ISO: GSTC Standard dirancang spesifik untuk sektor pariwisata, dengan kriteria yang sangat kontekstual dan operasional. Jauh lebih mudah diterapkan oleh hotel, operator perjalanan, atau pengelola destinasi dibanding standar ISO yang lebih bersifat generik dan teknis.

Bedanya dengan label sustainability lain yang banyak beredar: GSTC memiliki proses akreditasi yang transparan dan terverifikasi. Sebuah sertifikasi hanya bisa diklaim sebagai “GSTC-Recognized” atau “GSTC-Accredited” jika lembaga pemberinya telah melalui proses akreditasi resmi oleh GSTC sehingga ada mekanisme quality control yang jelas.

Empat Pilar GSTC Standard: Apa yang Diukur dan Dinilai?

GSTC Standard diorganisasikan dalam empat pilar utama (disebut juga “kriteria”) yang melingkupi seluruh dimensi keberlanjutan dalam pariwisata. Inilah inti dari standar ini.

Pilar A - Manajemen Keberlanjutan yang Efektif

Pilar pertama berkaitan dengan sistem dan tata kelola yang ada di dalam organisasi. Bukan sekadar apa yang dilakukan, tapi bagaimana keputusan dibuat, bagaimana kebijakan ditetapkan, dan bagaimana kemajuan diukur.

Yang dinilai: Kebijakan tertulis, tim penanggung jawab, sistem monitoring berkala, dan kepatuhan keberlanjutan dari pihak vendor.

Pilar B - Manfaat Sosial-Ekonomi bagi Masyarakat Lokal

Ini adalah pilar yang paling sering diabaikan, padahal secara strategis sangat penting. Pilar B mengevaluasi sejauh mana aktivitas pariwisata benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi atau bisnis.

Yang dinilai: Penyerapan tenaga kerja lokal, kemitraan dengan UMKM, program pemberdayaan ekonomi, dan wadah pengaduan masyarakat.

Pilar C - Pelestarian Warisan Budaya

Pariwisata dan kebudayaan memiliki hubungan yang rentan: di satu sisi, pariwisata bisa menjadi motor pelestarian budaya; di sisi lain, komersialisasi berlebihan bisa mengikis autentisitas dan martabat tradisi lokal.

Yang dinilai: Promosi budaya yang bertanggung jawab, perlindungan situs bersejarah, dan edukasi panduan etika bagi wisatawan.

Pilar D - Perlindungan Lingkungan

Inilah pilar yang paling intuitif dipahami, tapi juga yang paling kompleks dalam implementasinya.

Yang dinilai: Pengelolaan limbah, efisiensi energi/air, perlindungan keanekaragaman hayati, dan etika interaksi dengan satwa liar.

5 Standar GSTC: Hotel, Tour Operator, Destinasi, Atraksi, dan MICE - Apa Bedanya?

GSTC mengembangkan 5 set kriteria yang berbeda untuk konteks yang berbeda. Memahami perbedaan ini penting agar Anda bisa mengidentifikasi kriteria mana yang paling relevan untuk posisi Anda.

Kriteria / Standar Ditujukan Untuk Fokus Utama Skala Penerapan Contoh Pengguna
GSTC Destination Pemerintah, DMO, & Pengelola Wilayah Kebijakan publik, tata ruang, & kesejahteraan masyarakat. Makro (Negara/Kota/Wilayah) Dasar regulasi daerah & sertifikasi destinasi. Pemprov Bali, DMO Labuan Bajo, Kota Kyoto.
GSTC Hotels Pemilik & Pengelola Akomodasi Efisiensi energi/air, food waste, & hak tenaga kerja. Mikro (Properti/Bangunan) Audit operasional harian & label hotel hijau. Marriott, Hilton, Boutique Resort.
GSTC Tour Operators Agen Perjalanan & Penyedia Aktivitas Etika rantai pasok, perlindungan satwa, & edukasi tamu. Organisasional (Perusahaan Jasa) Seleksi vendor & penyusunan paket wisata rendah karbon. Intrepid Travel, TUI Group, Agen Lokal.
GSTC MICE Penyelenggara Acara & Pengelola Gedung Manajemen sampah massal, aksesibilitas, & katering lokal. Sektoral (Event/Venue) Standar penyelenggaraan pameran, konser, & konferensi. Jakarta Convention Center (JCC), Event Organizer.
GSTC Attraction Situs Wisata & Taman Hiburan Manajemen pengunjung (overtourism), konservasi, & interpretasi. Spesifik (Lokasi/Situs) Operasional harian tempat wisata agar aset tidak rusak. Candi Borobudur, Museum Louvre, Disneyland.

Penting: keduanya menggunakan empat pilar yang sama (A, B, C, D), namun dengan indikator dan cara pengukuran yang disesuaikan dengan konteksnya masing-masing.

Bagaimana Cara Memahami dan Mulai Menerapkan GSTC Standard?

Dokumen GSTC Standard tersedia secara publik di situs resmi GSTC dan bisa diunduh secara gratis. Namun, memahami standar dari dokumen saja adalah titik awal yang sering kali membingungkan terutama bagi yang baru pertama kali bersentuhan dengan standar ini.

Ada beberapa jalur yang bisa ditempuh:

  • Belajar mandiri: Membaca dokumen standar, mempelajari studi kasus dari destinasi atau bisnis yang sudah menerapkan GSTC, dan mencoba melakukan self-assessment secara bertahap. Jalur ini fleksibel tapi membutuhkan waktu lebih lama dan rentan salah interpretasi.
  • Mengikuti pelatihan terstruktur: Jalur yang paling efisien untuk membangun pemahaman yang komprehensif, operasional, dan langsung bisa diterapkan. Program pelatihan yang baik tidak hanya menjelaskan apa yang ada di dalam standar, tapi juga bagaimana menerjemahkannya ke dalam konteks bisnis atau destinasi spesifik Anda.

Di Indonesia, Wise Steps Consulting (WSC) adalah salah satu Official Training Partner GSTC yang berwenang menyelenggarakan GSTC Sustainable Tourism Course (STC) program pelatihan resmi yang kurikulumnya disusun bersama GSTC. Sejak 2022, WSC telah melatih lebih dari 150 profesional pariwisata dari berbagai latar belakang: pengelola destinasi, manajer hotel, operator perjalanan, akademisi, hingga pejabat dinas pariwisata.

Program pelatihan 2026 tersedia dalam empat pilihan:

  • Onsite Bandung โ€” 6โ€“7 April 2026 (Selesai)
  • Online Batch 5 โ€” 15 Juni โ€“ 10 Juli 2026 (Jadwal terdekat)
  • Onsite Lombok (dengan field study) โ€” 26โ€“28 Agustus 2026
  • Online Batch 6 โ€” 26 Oktober โ€“ 20 November 2026

GSTC Bukan Tujuan Akhir, Tapi Titik Awal yang Paling Tepat

GSTC Standard tidak menjanjikan bahwa destinasi atau bisnis Anda akan langsung sempurna setelah mengadopsinya. Yang ditawarkan adalah sesuatu yang lebih berharga: sebuah peta yang jelas, terstandarisasi, dan diakui secara global tentang ke mana harus melangkah dan bagaimana mengukur kemajuan.

Di dunia di mana klaim “sustainable” semakin mudah dibuat namun semakin sulit dipercaya, GSTC Standard adalah cara untuk membuktikan bahwa komitmen Anda terhadap keberlanjutan bukan sekadar kata-kata melainkan praktik yang bisa diverifikasi.

Dan langkah paling efektif untuk memulai perjalanan itu adalah dengan memahami standarnya secara benar, dari sumber yang tepat.

Artikel Terkait

Menu
English ยป