Tak dapat dipungkiri bahwa adanya pandemi belakangan ini berdampak secara signifikan terhadap industri pariwisata. Diberlakukannya kebijakan pembatasan dalam skala nasional hingga internasional berimplikasi terhadap turunnya angka mobilitas masyarakat. Berdasarkan data riset BPS melalui indeks mobilitas google, penurunan mobilitas masyarakat terjadi pada kategori perdagangan retail dan rekreasi yang meliputi tempat-tempat seperti restoran, kafe, pusat perbelanjaan, taman wisata, museum, perpustakaan, dan bioskop. Penurunan tersebut terjadi sejak adanya imbauan social distancing (pembatasan sosial) pada pertengahan Maret. Tak khayal juga apabila PHRI menyebutkan bahwa rata-rata 150 usaha restoran dan hotel gulung tikar setiap bulannya pada tahun 2020 karena sepinya tamu hotel. Data-data tersebut merefleksikan signifikannya dampak pandemi terhadap industri pariwisata di Indonesia.
Pada masa-masa sulit karena pandemi, pariwisata Indonesia terus berusaha bertahan dengan beradaptasi dan mencoba membentuk ekosistem bisnis yang tangguh (resilience) sekaligus pulih (recovery) dari dampak pandemi. Wacana tersebut diungkapkan oleh Sandiaga Uno sebagai Menparekraf, disebutkan bahwa “Strategi yang mungkin diadopsi adalah strategi inovasi dengan menggunakan teknologi, menggunakan pendekatan big data, pendekatan kekinian untuk memetakan baik dari segi potensi maupun penguatan”.
Berbicara mengenai Big Data, sebenarnya apakah Big Data itu?
Big Data mengacu pada kumpulan data informasi yang besar, beragam, terstruktur, dan tidak terstruktur yang terus-menerus dihasilkan dan ditransmisikan oleh organisasi, orang, dan mesin (sensor) dengan kecepatan yang terus meningkat dari waktu ke waktu (Ghotkar dan Rokde 2016). Big data sering diasosiasikan dengan istilah “5V Big Data” yang terdiri dari volume, kecepatan (velocity), variasi (variety), kebenaran (veracity), dan nilai (value). Kaitannya dalam pariwisata, big data yang berhubungan pariwisata (data dari tourism operator, online travel sources, dan sosial media) maupun data non-pariwisata (cont. geospasial data, kesehatan publik) dapat berguna untuk dijadikan basis data dalam mewujudkan resiliensi dan recovery industri pariwisata pada saat pandemi (UNWTO, 2021).
Implementasi Big Data dalam Industri Pariwisata
Beberapa negara mengimplementasikan pemanfaatan ketersediaan big data tersebut. Di Macao, terdapat aplikasi “Macao Ready Go!” yang digunakan untuk menstimulus perjalanan domestik dengan mensubsidi harga melalui sistem e-kupon yang diintegrasikan dengan berbagai mitra. Data- data tersebut tentunya dapat diolah lebih lanjut lagi untuk menganalisis tren dalam masyarakat. Kemudian Macao juga memonitoring aktivitas wisatawan melalui sistem blockchain yang nantinya berfungsi untuk mengidentifikasi kesehatan wisatawan secara berkala. Serupa dengan Macao, Indonesia menggunakan sebuah aplikasi berbasis kesehatan yang disebut “Peduli Lindungi”. Padamasa pandemi tentunya kesehatan menjadi isu esensial, maka aplikasi tersebut hadir dengan mengintegrasikan data identitas penduduk dan institusi kesehatan publik. Dalam bermobilitas, wisatawan diwajibkan menunjukan data kesehatan pribadinya melalui aplikasi tersebut sebelum menggunakan beberapa transportasi umum, bahkan tak jarang terdapat destinasi wisata yang menggunakan aplikasi Peduli Lindungi tersebut sebagai upaya memonitoring wisatawan yang datang. Secara umum dapat dikatakan pemerintah berusaha untuk mendorong adanya perjalanan yang aman (safe travel) sehingga berpotensi mengurangi perasaan skeptis maupun takut yang muncul di benak masyarakat. Selain itu, stimulus juga dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan dengan menganggarkan dana sebesar Rp25 triliun untuk pemulihan ekonomi nasional yang dialokasikan untuk dukungan sektor pariwisata dan voucher makanan melalui aplikasi online.
Baca juga: Penerapan Blockchain Dalam Industri Pariwisata
Sebagai institusi penyedia data, Badan Pusat Statistik juga mulai semakin erat dalam penggunaan big data. Keterbatasan dalam mengumpulkan data secara konvensional mendorong BPS dalam berinovasi pada pengumpulan data melalui big data. Dengan kata lain, selain karena efisiensi dan perkembangan teknologi, intervensi pandemi juga menyebabkan pergeseran terhadap dinamika penyediaan dan pemerolehan data sehingga pelibatan big data yang masif muncul menjadi sebuah keniscayaan pada saat pandemi. Beberapa contoh data yang didapatkan BPS melalui olahan big data, yakni diantaranya adalah data mobilitas masyarakat yang diperoleh melalui Google Mobility Report, data perkembangan jumlah penerbangan yang diolah melalui situs Flight Status, data tingkat penghunian kamar yang didapat melalui situs pemesanan akomodasi online, dan data rata-rata harga hotel yang diperoleh melalui situs booking online. Data-data BPS tersebut berguna untuk memberi gambaran kondisi berbagai sektor pariwisata pada masa pandemi. Data tersebut tentunya juga dapat menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan oleh para pemangku kepentingan.
Penggunaan big data telah berkembang sedemikian rupa pada saat pandemi. Bahkan, dapat dikatakan, selama ini big data muncul sebagai katalis industri pariwisata secara bisnis. Namun, adakah peran lain dari big data yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan pariwisata?
Kesimpulannya, selepas pemberlakuan pembatasan sosial selama pandemi, permintaan (demand) terhadap pariwisata menjadi meningkat. Hal tersebut tentunya memberikan ancaman terhadap infrastuktur dan daya dukung pariwisata. Distribusi wisatawan yang tidak merata pada satutitik maupun potensi overtourism dapat menjadi ancaman tersendiri bagi industri pariwisata. Olehkarena itu, dalam pemulihan (recovery) industri pariwisata, pemangku kepentingan juga harus melihat sisi keberlanjutan (sustainability) dari aktivitas pariwisata. Penggunaan big data dapat menjadi tools dalam mendukung pengambilan keputusan yang tepat dalam rangka mengembangkan pariwisatayang berkelanjutan pada masa pemulihan (recovery).
By: Muhammad Sofyan Hadi, Business Analyst
Referensi:
- BPS. (2021). Kajian Big Data Sinyal Pemulihan Indonesia dari Pandemi Covid-19.
- Ghotkar, M. and P. Rokde. (2016). Big Data: How It Is Generated and Its Importance. IOSR Journal of
Computer Engineering - UNWTO. (2021). Big Data For Better Tourism Policy, Management, and Sustainable Recovery from Covid-19