Blog

  1. Home
  2. Blog
  3. Destinasi yang Khawatir Dengan Tingginya Jumlah Pengunjung Setelah Pandemi

Destinasi yang Khawatir Dengan Tingginya Jumlah Pengunjung Setelah Pandemi

destinasi_yang_khawatir_dengan_tingginya_jumlah_pengunjung_setelah_pandemi

Sejak COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi pada 2020, World Tourism Organization mengatakan bahwa kedatangan internasional mengalami penurunan sebesar 70% dibandingkan tahun 2019, dan pada 2021 ada sedikit kenaikan sekitar 4%.

Setelah 2 tahun diterapkannya larangan untuk traveling dan harus berdiam diri di rumah untuk mengurangi angka pertumbuhan COVID-19, saat ini dunia perlahan-lahan mulai membuka lagi sektor pariwisata mereka.

Meski begitu, ada beberapa destinasi yang khawatir akan terjadi lonjakan pengunjung yang sangat tinggi dibandingkan sebelum pandemi. Berikut adalah beberapa destinasi yang mencoba untuk merubah strategi pariwisata mereka setelah Pandemi. Check this out!

1. Kyoto, Jepang

Beberapa pelaku pariwisata di Kyoto, salah satunya Aya McKinley yang merupakan Manager di Hotel Kyoto Machiya Fukune, mengatakan bahwa dirinya tidak sabar untuk melihat wisatawan kembali ke Kyoto. Namun meski begitu, para Pejabat di Kyoto dan masyarakat lokal justru khawatir dengan kedatangan kembali para wisatawan setelah Pandemi berakhir.

Para Pejabat di Kyoto mengatakan bahwa mereka perlu membatasi jumlah kunjungan wisatawan. Sedangkan masyarakat lokal mengatakan agar wisatawan lebih sopan ketika mereka kembali. Menanggapi hal tersebut, untuk mencegah terjadinya mass tourism, Organisasi Pariwisata Nasional di Jepang mengatakan bahwa mereka akan lebih mempromosikan daerah yang belum banyak dikenal dan juga aktivitas outdoor.

Baca juga: Generasi Hashtag: Masa Depan Pariwisata Berkelanjutan dan Wisata Minat Khusus

2. Bali, Indonesia

Pariwisata adalah salah satu sektor utama pendukung ekonomi masyarakat di Bali, maka dari itu mayoritas masyarakat dan bisnis di Bali sangat menantikan kembalinya para wisatawan. Namun kedepannya, seperti yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan, pemerintah hanya ingin menarik wisatawan yang “berkualitas”. Maksud dari wisatawan yang berkualitas disini adalah wisatawan yang patuh terhadap regulasi pariwisata, protokol kesehatan, hukum, imigrasi, serta menghormati tradisi dan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat lokal.

Bali

3. Praha, Republik Ceko

Untuk mencegah terjadinya mass tourism, walikota Praha mengatakan bahwa dirinya ingin mengurangi kegiatan bar-hopping yang sering dilakukan oleh wisatawan, membatasi waktu penyajian alkohol, serta agar wisatawan dapat pergi mengunjungi daerah lainnya yang belum banyak dikenal. Selain itu, Pemerintah Republik Ceko juga mengumpulkan data untuk mengetahui apa yang paling diminati oleh wisatawan dengan harapan agar dapat menyeimbangkan manfaat ekonomi dari Pariwisata dengan kebutuhan masyarakat.

4. Venice, Italia

Sebelum Pandemi, Venice sudah dapat dikategorikan sebagai mass tourism karena jumlah kedatangan wisatawan yang melebihi jumlah penduduk lokal. Hal tersebut membuat banyak masyarakat lokal merasa frustasi dan memilih untuk meninggalkan kota.

Dalam upaya untuk mengurangi jumlah pengunjung harian dan mencegah terjadinya mass tourism di masa depan, Pemerintah Venice berencana untuk mengenakan biaya kepada wisatawan harian sekitar €10 untuk masuk. Selain itu, wisatawan juga memerlukan “Green Pass” sebagai bukti telah divaksinasi untuk masuk ke dalam toko, dan juga “Super Green Pass” sebagai bukti telah mendapatkan booster untuk bisa makan di cafe, restaurant, serta memasuki area lainnya.

Venice

5. Amsterdam, Belanda

Banyaknya wisatawan yang berperilaku buruk dan berkerumun dalam jumlah besar di tempat hiburan malam menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat lokal di Amsterdam. Hal tersebut menyebabkan Pemerintah dan masyarakat lokal berharap dapat mengurangi jumlah wisatawan nakal, tidak patuh terhadap hukum, dan tidak menghormati masyarakat lokal. Menurut salah satu pelaku Pariwisata di Amsterdam, sebagai solusi untuk hal tersebut, Amsterdam perlu mengubah strategi pariwisata mereka dengan lebih fokus pada Pariwisata Berkelanjutan.

Baca juga: MotoGP Mandalika: Apakah Efektif untuk Branding Pariwisata Indonesia?

6. Barcelona dan Mallorca, Spanyol

Tingginya jumlah kunjungan wisatawan, khususnya yang menginap di Barcelona, menyebabkan masyarakat menjadi stres. Hal tersebut terjadi karena peningkatan jumlah pengunjung yang menginap dijadikan kesempatan bagi Pemilik Lahan untuk menaikkan harga sewa. Pemilik Lahan merasa bahwa mereka bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan dari wisatawan dibandingkan masyarakat lokal.

Untuk mengatasi terjadinya mass tourism, Badan Otoritas Pariwisata di Barcelona mengeluarkan sebuah aplikasi yang bisa menunjukkan bagaimana kondisi kunjungan atraksi wisata yang ada di kota tersebut. Aplikasi tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya penumpukan wisatawan. Sedangkan Pemerintah di Mallorca mengatakan bahwa pariwisata setelah Pandemi harus lebih fokus pada keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

barcelona

Meskipun dibukanya kembali sektor Pariwisata di dunia sangat dinantikan untuk dapat mendorong peningkatan ekonomi, namun banyak pihak, khususnya masyarakat lokal, yang berharap bahwa pariwisata setelah pandemi tidak sama seperti sebelumnya. Maksud dari “tidak sama seperti sebelumnya” adalah jumlah kedatangan pengunjung dapat lebih dibatasi sesuai daya tampung tiap destinasi, dan wisatawan agar dapat lebih patuh terhadap aturan serta menghormati masyarakat lokal.

By: Agus Sur – Social Media Intern & S.Setiawan – Digital Marketing Specialist Wise Steps Group

Artikel Terkait

Menu
Open chat
Halo 👋

Ada yang bisa kami bantu?
destination_marketing_series_popup_banner