Blog

  1. Home
  2. Blog
  3. Mengenal Fase-Fase Pengembangan Destinasi Melalui Tourist Area Life Cycle (TALC)

Mengenal Fase-Fase Pengembangan Destinasi Melalui Tourist Area Life Cycle (TALC)

Pengembangan Destinasi Melalui Tourist Area Life Cycle (TALC)

Tourist Area Life Cycle
Jika ditilik secara mendalam, ilmu kepariwisataan dalam konteks pembangunan banyak beririsan dengan bidang ilmu lainnya. Terkadang dalam mengembangkan suatu destinasi wisata, banyak aspek yang harus diperhatikan mulai dari faktor sosial budaya masyarakat, dampak lingkungan ekologis, pemasaran destinasi, branding, infrastruktur dan tata wilayah, arsitektur, transportasi, pengelolaan sampah, teknologi, kebijakan, sampai ilmu hukum. Hal inilah yang menyebabkan pariwisata dianggap sebagai ilmu multi disiplin yang kompleks (Lihat Gambar 1). Terkadang dalam menyusun perencanaan masterplan dan rancangan induk pariwisata hanya dilihat dari satu sisi keilmuan saja, sehingga pada implementasi secara jangka panjang akan bermasalah. Pola pendekatan yang top-down dengan bidang keilmuan yang tidak menyeluruh cenderung sulit untuk merangkul masyarakat yang pada akhirnya malah membahayakan keberlanjutan dan eksistensi suatu destinasi.

 

Tourism Studies 1

Gambar 1: Keilmuan Pariwisata

Mungkin pertanyaan yang sering kali muncul adalah apakah suatu pola pendekatan pembangunan dapat diterapkan secara seragam di semua destinasi? Seringkali dikarenakan faktor target dan menjadi prioritas pemerintah pusat, pendekatan bottom-up yang menjadikan masyarakat aktor penting malah kurang dilibatkan dalam perencanaan destinasi. Sehingga hal ini malah menjadi potensi konflik baru yang dapat merugikan banyak pihak. Namun, ada juga di daerah tertentu yang malah pola pendekatan top-down manjadi solusi efektif. Hal ini akan erat kaitannya dengan posisi dan di fase mana destinasi tertentu berada yang dapat digambarkan dengan permodelan Tourist Area Life Cycle (TALC) yang diciptakan oleh Butler (1978) – Lihat Gambar 2.

TALC

Gambar 2: Tourist Area Life Cycle (TALC) by Richard Butler (1978)

Model fase TALC merupakan model yang dikembangkan dari keilmuan pemasaran dan bisnis melalui model Product Life Cycle (PLC)-nya yang sangat terkenal dikalangan product manager dan pemasar. Mungkin agak terkesan rumit, namun model TALC ini justru sangat membantu pengelola destinasi untuk mengetahui daerahnya di fase mana. TALC adalah model linear sederhana yang dikategorikan menjadi 6 fase, yaitu:

  1. Fase Explorasi (Exploration)

Fase ini adalah fase dimana suatu daerah baru mulai akan mengembangkan daerahnya menjadi destinasi wisata. Jenis atraksinya mayoritas bertemakan alam dan budaya yang belum dikembangkan secara serius. Fase ini merupakan fase awal ketika pemerintah daerah dan masyarakatnya mulai memikirkan untuk mengembangkan pariwisata daerahnya, melihat potensi yang dimilikinya. Inilah waktu yang tepat dimana perencanaan visi pariwisata (tourism visioning) mulai dipikirkan. Contoh daerah yang masuk tahap ini adalah Kawasan Ekonomi Khusus yang baru ditetapkan oleh pemerintah seperti KEK Tanjung Gunung di Pulau Bangka.

  1. Fase Keterlibatan (Involvement)

Fase ini merupakan fase dimana pengembangan destinasi wisata mulai serius dilakukan dan sektor pariwisata mulai dijadikan sebagai sumber pemasukan. Homestay mulai berkembang, investor mulai tertarik untuk berbisnis, pemerintah dituntut untuk mengembangkan infrastruktur dasar seperti jalan, bandara, fasilitas kesehatan, dan program pemberdayaan masyarakat. Pada fase ini juga sudah mulai terlihat musim kunjungan wisatawan. Selain itu sering terjadi kontak antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Contoh daerah yang termasuk fase ini adalah Kabupaten Kendal yang mulai mengembangkan pariwisatanya dibawah kepemimpinan Bupati baru.

  1. Fase Pengembangan (Development)

Pada fase ini, pasar wisatawan sudah terdefinisi dengan baik. Kontrol dan keterlibatan masyarakat mulai berkurang akibat adanya campur tangan pemerintah pusat dalam pengembangan pariwisata dan infrastruktur. Atraksi utama mulai dikembangkan. Investor asing mulai masuk yang terdorong karena adanya pertumbuhan angka kunjungan wisatawan yang tinggi serta adanya potensi pasar wisatawan baru. Contoh destinasi yang masuk di fase ini adalah Mandalika, Lombok yang sedang mengembangkan Sports Tourism dengan sirkuit MotoGP Mandalika.

  1. Fase Konsolidasi (Consolidation)

Saat fase konsolidasi, pertumbuhan pariwisata mulai melambat. Hal ini bisa berarti dua kemungkinan. Yang pertama perlambatan ini disengaja karena pengelola destinasi ingin membatasi kunjungan dengan memberlakukan carrying capacity untuk menekan dampak negatif bagi destinasi. Selain itu juga bisa jadi pengelola ingin merubah segmen pasar menjadi lebih eksklusif. Kemungkinan yang kedua perlambatan tersebut tidak disengaja dikarenakan kejenuhan pasar dan kurangnya inovasi produk. Contoh destinasi yang tergolong fase ini adalah Labuan Bajo dengan Komodonya. Pemerintah pusat mencanangkan destinasi ini menjadi super premium yang mana hal ini juga dimaksudkan untuk menjaga kelestarian ekosistem dan kelangsungan hewan dilindungi Komodo agar terhindar dari arus pariwisata massal.

  1. Fase Stagnan (Stagnation)

Fase stagnan ditujukan untuk destinasi yang berada pada titik jenuh. Dampak dari pariwisata massal sangat jelas terlihat seperti sampah, degradasi sosial budaya, dan juga kebocoran ekonomi (economic leakage) yang tinggi. Akibatnya destinasi wisata jika tidak melakukan inovasi atau memikirkan ulang terhadap pola pembangunannya, wisatawan loyal tidak akan berkunjung lagi dan berpotensi menyebabkan penurunan jumlah kunjungan atau fase decline. Contoh destinasinya yang sedikit banyak menunjukan gejala ini adalah Bali Selatan dengan Kuta dan Legian-nya.

  1. Fase Peremajaan (Rejuvenation) & Penurunan (Decline)

Ada dua kemungkinan jika suatu destinasi sudah terjebak dalam fase stagnan. Pertama adalah terjadi penurunan atau declining dan yang kedua adalah melakukan inovasi dan berhasil masuk ke fase peremajaan. Peremajaan dan inovasi adalah fase yang dibutuhkan untuk dapat bertahan setelah fase stagnan. Hal ini sangat bergantung terhadap perencanaan yang matang dan rencana aksi yang syarat inovasi dan adaptif. Contoh yang dapat dilakukan oleh destinasi adalah pengembangan atraksi baru, pembangunan kepariwisataan berbasis pariwisata berkelanjutan, perubahan target pasar wisatawan, atau bisa juga dilakukan perubahan menengah dengan melakukan penyesuaian dan peningkatan terhadap fasilitas dan infrastruktur pariwisata.

Maka dari itu, hal yang pertama harus dilakukan oleh pengelola destinasi baik swasta maupun pemerintah adalah mengenali terlebih dahulu dimana destinasi Anda berada. Selanjutnya adalah menentukan strategi dan rencana aksi yang disesuaikan dengan fasenya masing-masing. Wise Steps Consulting dalam menyusun strateginya selalu berkiblat kepada model TALC ini sehingga saran dan rekomendasinya dapat sesuai dengan kondisi klien kami.

By: Mochamad Nalendra, S.E., MISTM

Tourist Area Life Cycle (TALC)

Artikel Terkait

Menu
Open chat
Halo 👋

Ada yang bisa kami bantu?
destination_marketing_series_popup_banner