Blog

  1. Home
  2. Blog
  3. Branding Destinasi Sebagai Garda Terdepan Dalam Mempromosikan Aktivitas Pariwisata dan Keindahan Alam Destinasi

Branding Destinasi Sebagai Garda Terdepan Dalam Mempromosikan Aktivitas Pariwisata dan Keindahan Alam Destinasi

branding_destinasi-wisata

Pandemi sepertinya sudah hampir usai. Sektor pariwisata sudah mulai bergeliat kembali. Destinasi-destinasi sudah mulai gencar untuk memasarkan dan mempromosikan atraksinya untuk menangkap peluang recover setelah 2 tahun dilanda pandemi. Pertanyaannya bagaimana kita dapat bersaing dengan destinasi-destinasi yang sejenis dengan kita untuk merebut pasar wisatawan saat ini?

Sebagai bagian dari strategi pemasaran, branding atau merek merupakan salah satu cara dan memiliki peran yang sangat besar untuk menunjukkan, mengomunikasikan, serta memposisikan destinasi secara visual, pikiran, dan hati dari calon-calon wisatawan yang hendak melakukan perjalanan. Brand dapat dikatakan sebagai faktor penarik wisatawan dalam berkunjung ke sebuah destinasi pariwisata, atau sering disebut pull-factor.

Menurut American Marketing Association, mendefinisikan branding sebagai berikut:

“A name, term, design, symbol. A brand is created and influenced by people, visuals. Culture, style, perception, words, messages, PR, opinions, news, media, and especially social media. Like when a child is born and given a name, a brand needs nurturing, support, development, and continuous care in order to thrive and grow. Some brands have life cycle and grow old like people. Some brands are timeless and never die, are “born again” or reinvented, while some brands live a short but powerful life and have iconic legacy.”

Berdasarkan hal tersebut, kita dapat melihat bahwa sebuah brand atau merek dapat dianalogikan seperti anak yang baru lahir yang mana mereka perlu dibimbing, dididik, dipelihara, didukung, dan diperhatikan terus menerus agar bisa terus tumbuh. Seperti halnya perkembangan pada manusia, brand memiliki siklus hidupnya sendiri, semisal dapat hilang atau mati, dan juga berumur pendek. Namun, perbedaan besarnya suatu brand dapat terus hidup abadi atau tak akan pernah mati dengan syarat terus berinovasi.

Baca Juga: Destinasi yang Khawatir Dengan Tingginya Jumlah Pengunjung Setelah Pandemi

Pengembangan Brand Destinasi Pariwisata

Sebagaimana pariwisata umumnya, brand destinasi pariwisata memerlukan titik temu antara dua kekuatan pasar, pemangku kepentingan pariwisata (Stakeholders) dan wisatawan (tourist). Para pemangku kepentingan pariwisata berperan sebagai pencipta dari brand, sedangkan wisatawan adalah pengguna dari brand (Judisseno, 2019).

tourism_destination_brand_development

Tourism Destination Brand Development | Sumber: Judisseno (2019)

Kedua pihak (pemangku kepentingan dan wisatawan) memberikan makna pada sebuah brand (brand value) melalui suatu proses branding (the movement from existing tourism brand to brand equity) yang dibentuk dan dipengaruhi oleh people (company, consumers, and commentators), media konvensional maupun digital, persepsi, dan budaya.

Contoh Pengembangan Brand Destinasi Pariwisata: Bali

Destinasi pariwisata terpopuler di Indonesia dan global, Bali, memiliki sejarah brand yang menarik untuk dijadikan sebuah kasus dan dibahas di dalam berbagai forum diskusi. Di awal kebangkitan Bali sebagai destinasi pariwisata, Bali telah menerima berbagai macam julukan, seperti, “Morning of the world”, “Last paradise of the world”, “Island of Gods”, dan “Thousands of Temple”. Sampai pada akhirnya Bali memutuskan untuk menggunakan “Island of Gods” sebagai branding destinasinya.

branding_pariwisata_bali

Branding Pariwisata Bali | Sumber: travel.dream.co.id

Bali melalui strateginya mengedepankan branding destinasi dengan pendekatan kepada kebudayaan-kebudayaan Bali yang sangat kental dan unik, serta keberagaman alam yang tersebar luas di wilayahnya. Sebelumnya, branding pariwisata Bali adalah “Bali Shanti” yang mana pada akhirnya gugur secara otomatis. Berbagai macam diskusi telah dilalui dengan melibatkan masyarakat lokal serta pemangku kepentingan pariwisata guna menyempurnakan branding ini. Bahkan menurut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Anak Agung Gede Yuniartha, menyiapkan branding ini melibatkan 100 orang pakar dan budayawan dengan waktu pengerjaan hampir setahun lamanya.

Baca Juga: Kemampuan yang Wajib Dimiliki Seorang Pengelola Destinasi Pariwisata

Alasan lain mengapa perubahan terjadi adalah karena keinginan kuat dari Pemerintah Provinsi Bali dalam membuat brand yang sejalan atau inline dengan branding pariwisata nasional, yakni Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia. “Bali Shanti” sendiri sejatinya tidak terlalu dikenal oleh dunia dan berbeda dengan brand nasional. Di sisi lain, terdapat pendapat bahwa sejatinya hanya dengan menulis “Bali” saja sudah cukup sebagai brand tanpa perlu menambahkan tagline, Pulau Bali, Bunga Pucuk Rejuna, dan pura. Karena, siapa yang tidak tahu Bali? Nah, bagaimana menurut kalian?

Maka dari itu, dengan sedemikian rumitnya dalam merumuskan branding pariwisata, perlu adanya proses panjang di dalam merumuskan sebuah branding yang tepat sasaran. Dimulai dari membuat segmentasi pasar, targeting, positioning, diferensiasi, hingga pada akhirnya branding. Wise Steps Consulting pada bulan July akan mengadakan sebuah program online booth camp tentang bagaimana menyusun strategi pemasaran suatu destinasi. Mendatangkan berbagai pembicara dan praktisi pemasaran, program ini akan mengupas tuntas tidak hanya dari sisi teori, tapi juga aplikasinya sehingga destinasi kita mampu bersaing dengan destinasi lainnya.

Cari tahu program workshopnya di Destination Marketing Series

By: Rega Aldiaz Wahyundi – Junior Analyst Wise Steps Consulting

Sumber:

Judisseno, Rimsky K. (2019). Branding Destinasi dan Promosi Pariwisata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Artikel Terkait

Menu
Open chat
Halo 👋

Ada yang bisa kami bantu?
destination_marketing_series_popup_banner